Novel Charlie Wade Bab 7513 – 7514

si karismatik novel Charlie Wade lengkap gratis online free - stefan stefancik - unsplash @

Novel Charlie Wade Bab 7513 – 7514 dalam bahasa Indonesia. Diterjemahkan dari novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Naga Tertinggi Ye Chen – Xiao Churan”. Semoga bisa menikmati kisah / ceritanya yang semakin seru.

The Amazing Son-in-Law / The Charismatic Charlie Wade (Ye Chen) Chapter Bab 7513 – 7514.


Bab 7513

Kepekaan Brovnen terhadap energi spiritual jauh melampaui Charlie.

Hal itu bukan hanya karena tingkat kultivasinya yang lebih tinggi, tetapi juga karena kondisi hidupnya yang serba kekurangan.

Ia hampir tidak memiliki kesempatan untuk memperoleh energi spiritual, sangat berbeda dengan Charlie yang memiliki persediaan pil untuk mengisi kembali cadangannya kapan saja.

Dalam hal ini, Brovnen lebih mirip seorang pengemis kelaparan. Indra perasanya menjadi jauh lebih tajam terhadap “aroma” energi spiritual dibandingkan orang biasa.

Begitu energi spiritual Charlie menyentuhnya, seketika bulu kuduknya berdiri.

Karena ia bersembunyi jauh di dalam gua, di wilayah terpencil yang membentang puluhan ribu kilometer, ia sama sekali tidak menahan auranya. Maka ketika energi Charlie menyentuhnya, bukan hanya Brovnen yang terkejut—

Charlie sendiri pun tersentak.

Dalam sekejap, ia menyadari bahwa sosok yang duduk di dasar gua itu adalah seorang kultivator. Dan karena ia tidak mampu membaca tingkat kultivasinya, hanya ada satu kemungkinan—

Orang itu lebih kuat darinya.

Di benaknya, hanya ada dua kultivator di Antartika: dirinya sendiri dan tetua dari Perkumpulan Penghancuran Qing yang pernah ia tipu beberapa hari lalu—yang kini sedang diburu oleh militer Amerika.

Dan sekarang, sosok itu duduk di dasar gua.

Tanpa ragu sedikit pun, Charlie tahu siapa dia.

Perasaan yang muncul di dada Charlie bercampur antara tegang dan bersemangat. Naluri pertamanya adalah melarikan diri. Namun sebelum itu, ia sempat menoleh ke atas.

Panah hijau itu, masih menunjuk lurus ke dalam gua.

Wajah Charlie langsung berubah kesal. Ia mengumpat dengan nada marah yang tak tertahan, “Dasar bajingan! Aku bersusah payah mengumpulkan energi spiritual untukmu… dan ini balasanmu? Kau malah ingin menjebakku untuk mati di sini?!”

Tanpa ragu lagi, ia berbalik dan berlari.

Ia tidak punya pilihan selain lari.

Ia tahu, mustahil baginya untuk menang.

Memang, ia memiliki cincin yang bisa memindahkannya ke sisi Vera pada saat genting. Namun penggunaan benda itu berarti mempertaruhkan hidup dan mati. Konsekuensinya sangat berat, baik sebelum maupun sesudahnya.

Jadi, kecuali benar-benar terdesak, ia tidak ingin menggunakannya.

Charlie ingin melarikan diri.

Namun Brovnen tidak akan membiarkannya.

Antartika, benua liar yang sunyi dan tanpa hukum, adalah gambaran nyata dari teori Hutan Gelap di dunia ini.

Di tempat seperti itu, pertemuan antara dua makhluk hidup ibarat dua kucing yang tiba-tiba berhadapan. Keduanya akan waspada.

Yang lemah akan segera kabur, sementara yang kuat hanya memiliki satu pikiran. Mengejar dan membunuh.

Brovnen pun demikian.

Begitu ia menyadari ada pihak lain yang mengintainya, ia segera melepaskan energi spiritualnya untuk melacak sumber tersebut.

Energi Charlie bagaikan jejak remah-remah yang tertinggal di tanah, memungkinkan Brovnen untuk langsung mengunci posisinya.

Lebih penting lagi, ia langsung menyadari bahwa tingkat kultivasi lawannya lebih rendah.

Meskipun keduanya belum membuka Istana Niwan dan belum benar-benar mencapai tahap kultivasi sejati, perbedaan tetaplah jelas.

Brovnen sudah berada di ambang pembukaan Istana Niwan, sementara lawannya masih jauh dari titik itu.

Perbandingannya sederhana. Seperti anak yang hampir lulus taman kanak-kanak kelas tiga berhadapan dengan anak yang baru masuk kelas satu.

Keduanya memang masih “murid taman kanak-kanak”, tetapi jarak kekuatan di antara mereka begitu besar hingga hampir tak masuk akal.

Dalam dunia yang kejam ini, hukum yang berlaku sangat sederhana:

Jika tidak bisa menang, lari. Jika bisa menang, bunuh.

Bagaimana mungkin Brovnen membiarkan mangsa yang tiba-tiba memasuki wilayahnya lolos begitu saja?

Tanpa ragu, ia langsung berdiri. Energi spiritual mengalir deras ke kedua kakinya. Dengan satu lompatan kuat, tubuhnya melesat lebih dari sepuluh meter ke atas di dalam gua es vertikal itu.

Kakinya bergerak cepat di antara dinding es, setiap pijakan melompati jarak lebih dari sepuluh meter. Dalam sekejap, ia telah menempuh ratusan meter.

Bab 7514

Sementara itu, Charlie sudah berlari lebih dari seribu meter ke arah barat.

Ia datang dari utara, tetapi kini ia tidak berani kembali ke sana. Ia tidak ingin membawa bahaya kepada ketiga wanita itu. Maka ia memilih arah barat, berlari secepat mungkin.

Jika bisa lolos, itu keberuntungan.

Jika tidak— Ia akan bertarung sampai mati.

Namun, seberapa pun keras ia berlari, ia tidak mampu melepaskan diri dari kejaran Brovnen.

Saat Brovnen keluar dari gua es, bahkan sebelum kakinya menyentuh salju, tubuhnya sudah mengarah ke barat. Begitu mendarat, ia langsung berlari dengan kecepatan penuh.

Keduanya tidak memiliki kemampuan terbang.

Tidak ada pedang terbang, tidak ada sihir melayang.

Mereka hanya bisa berlari di atas hamparan es, seperti dua orang gila yang melesat dengan kecepatan jauh melampaui manusia biasa.

Kecepatan Charlie memang luar biasa, tetapi masih belum cukup.

Brovnen terus memperkecil jarak di antara mereka. Senyum dingin perlahan muncul di sudut bibirnya, semakin jelas, semakin penuh keyakinan.

Di matanya, Charlie hanyalah mangsa yang sudah hampir berada dalam genggamannya.

Bahkan, ia tidak perlu benar-benar menyusul.

Begitu jarak mereka menyempit hingga sekitar seratus kaki, ia bisa langsung menyerang dari belakang.

Charlie kurang berpengalaman dalam menghadapi lawan sejati.

Dalam pertarungan melawan ahli, kesalahan terbesar adalah hanya fokus pada melarikan diri—membiarkan punggung terbuka tanpa perlindungan.

Menghadapi musuh secara langsung mungkin masih memberi peluang kecil.

Namun diserang dari belakang, itu bisa berarti kematian seketika.

Meski begitu, dalam situasi ini, tidak adil menyebut Charlie pengecut.

Baginya, pertarungan ini memang tidak memiliki harapan.

Namun tak butuh waktu lama baginya untuk menyadari kenyataan pahit. Melarikan diri pun tidak memberi harapan.

Kecepatan lawan jauh melampaui dirinya. Dalam waktu singkat, Brovnen sudah memperpendek jarak hingga tiga puluh persen.

Dengan perhitungan seperti itu, dalam waktu kurang dari setengah jam, ia pasti akan tertangkap.

Dan medan di sekelilingnya?

Hampir sepenuhnya datar.

Tidak ada rintangan, tidak ada tempat berlindung, tidak ada ruang untuk bermanuver.

Melarikan diri di tempat seperti ini hanyalah ilusi kosong.

Tiba-tiba, Charlie berhenti.

Langkahnya terhenti begitu saja, seolah keputusan itu muncul dari kedalaman nalurinya.

Meskipun kurang pengalaman bertarung, ia sangat piawai dalam perhitungan. Sejak kecil, ia terbiasa dengan soal-soal pengejaran—jarak, kecepatan, waktu, kemungkinan.

Jika ia pasti akan tertangkap cepat atau lambat. Lalu untuk apa terus berlari?

Bukankah itu hanya membuatnya semakin pasif?

Kesadaran itu membuat keberaniannya justru menguat.

Ia berbalik.

Tatapannya tajam menembus udara dingin, langsung mengunci sosok yang semakin mendekat.

Dengan suara dingin, ia berteriak, “Aku belum pernah bertemu denganmu, senior, dan tidak punya dendam apa pun. Mengapa kamu mengejarku, seorang junior, di tempat seperti ini?!”

Brovnen sedikit terkejut melihat Charlie tiba-tiba berhenti.

Namun langkahnya tidak melambat sedikit pun. Ia tetap berlari kencang, bahkan tertawa dingin saat menjawab, “Para kultivator seharusnya memandang sesamanya sebagai mangsa.”

“Hanya dengan memangsa jenis sendiri, seseorang bisa tumbuh paling cepat. Apa kau bahkan tidak mengerti prinsip sederhana itu?”

Charlie menyipitkan matanya, sorotnya tajam seperti bilah es.

“Orang tua terkutuk,” katanya dingin, “kau terlalu kejam. Bagaimana kau bisa yakin kau pasti bisa memangsaku?!”

Brovnen mencibir, nada suaranya penuh penghinaan.

“Nak, kultivasiku jauh di atasmu. Untuk memangsamu, aku bahkan tidak perlu membuka mulutku lebar-lebar.”

Charlie balas mencibir, tak kalah dingin.

“Dulu, Perkumpulan Penghancuran Qing-mu punya seseorang bernama Tuan Chardon. Dia sama sombongnya denganmu. Dan, dia sudah hancur di tanganku. Hari ini, aku akan memastikan kau menyusulnya!”

Ekspresi Brovnen langsung membeku.

Matanya menyipit, kilatan dingin melintas di dalamnya.

“Anak baik…” gumamnya, suaranya berubah tajam dan berbahaya. “Jadi kaulah orang misterius yang selama ini dicari oleh Yang Mulia…”

Senyum tipis, kejam, perlahan terangkat di sudut bibirnya.

“Sepertinya hari ini, aku Brovnen Wubben, akan mencetak prestasi yang tak tertandingi!”


Demikian kisah/cerita dari Novel Charlie Wade Bab 7513 – 7514 gratis online. Semoga terhibur.

The Charismatic Charlie Wade / The Amazing Son-in-Law Chapter bab Novel Charlie Wade Bab 7513 – 7514.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*