Novel Charlie Wade Bab 7317 – 7318 dalam bahasa Indonesia. Diterjemahkan dari novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Naga Tertinggi Ye Chen – Xiao Churan”. Semoga bisa menikmati kisah / ceritanya yang semakin seru.
The Amazing Son-in-Law / The Charismatic Charlie Wade (Ye Chen) Chapter Bab 7317 – 7318.
Bab 7317
Pesawat Emmet meluncur cepat di langit pagi.
Ia tidak hanya mengatur penerbangan untuk Vera, tetapi juga ikut serta dalam perjalanan menuju Aurous Hill, ditemani puluhan pengawal kelas atas yang tangguh dan disiplin.
Bandara Aurous Hill telah menerima pemberitahuan dari atasan mereka: Rolls-Royce milik Logan mendapat izin istimewa.
Mobil itu melintas tanpa pemeriksaan keamanan atau bea cukai dan langsung memasuki hanggar pribadi bandara.
Vera turun dari mobil dengan penampilan yang sederhana namun elegan. Rambut panjangnya diikat tinggi menjadi kuncir kuda, tubuhnya dibalut gaun hitam polos, dilengkapi kacamata hitam dan masker yang menutupi sebagian wajah.
Di zaman ketika kecerdasan buatan dan sistem pengawasan kian canggih, penyamaran sederhana itu bukan sekadar gaya—melainkan bentuk kewaspadaan.
Sedikit kelalaian bisa membuatnya terlacak oleh gabungan kekuatan algoritma dan kamera.
Rolls-Royce berhenti tepat di bawah bayangan Airbus A350. Emmet, pria tua yang setia, sudah menunggu di jalur naik penumpang.
Begitu pintu terbuka, ia melangkah maju dan membungkuk ringan sambil membuka pintu.
“Nona,” ucapnya hormat, suaranya parau tapi berwibawa.
Vera menatapnya lembut. “Mengapa Anda di sini?”
Emmet menunduk lebih dalam. “Nona akan pergi ke Jepang. Saya khawatir Anda bepergian sendirian. Ada beberapa pengawal terlatih di pesawat ini—semuanya memiliki identitas ganda. Saya membawa mereka untuk melindungi Anda.”
Vera tersenyum kecil, senyum yang lembut tapi tegas. “Jangan terlalu gugup. Saya hanya akan ke Jepang sebentar. Pergi cepat, kembali cepat.”
“Lagipula, saya hanya menuju satu tempat, tak seharusnya ada bahaya.”
Emmet menatapnya dengan nada memohon. “Nona, Anda pernah dalam bahaya di Eropa Utara. Jika Tuan Wade ikut, saya tentu lebih tenang. Tapi kali ini Anda pergi sendiri…”
Ia menunduk lebih dalam. “Begitu pesawat mendarat, kami akan menjaga jarak. Kami tidak akan mengganggu Anda sama sekali.”
Decai, yang berdiri di dekatnya, ikut maju dan berkata dengan hormat, “Nona, izinkan saya ikut. Kalau tidak, saya dan Logan tidak akan tenang jika tetap tinggal di Nanjing.”
Vera menggigit bibirnya sesaat, lalu mengangguk ringan. “Baiklah. Kita ikuti pengaturan Tuan Sandsor.”
Ia menatap Emmet dengan pandangan lembut namun tegas. “Jika Tuan muda Wade datang mencariku, katakan padanya saya sedang pergi untuk urusan sekolah.”
“Meski kecil kemungkinannya dia datang, ingat pesan ini baik-baik.”
Emmet segera menjawab, “Sesuai perintah Anda.”
Vera mengangguk pelan, lalu menaiki tangga pesawat. Tanpa menoleh, ia melambaikan tangan ke belakang sambil berseru riang, “Tuan Sandsor, Anda sudah tak secepat dulu. Saya naik duluan, Anda tak perlu cemas.”
Dengan langkah ringan ia berlari kecil masuk ke kabin.
Emmet, Decai, dan Logan saling berpandangan, tersenyum tanpa suara.
Mereka telah mengenalnya selama puluhan tahun—wanita itu selalu demikian.
Ketika serius, ia setegas baja, fokus dan tak tergoyahkan.
Namun saat santai, ia bisa begitu jenaka, lugu, dan bebas seperti gadis remaja berusia tujuh belas tahun.
Setengah jam kemudian, pesawat didorong keluar dari hanggar. Mesin kembarnya meraung lembut, lalu meluncur di landasan, menembus langit yang masih kelabu sebelum fajar sepenuhnya merekah.
Di dalam pesawat, para pengawal duduk tenang di kabin belakang. Vera sendirian di bagian depan, ruang pribadi seluas puluhan meter persegi yang diredam sunyi.
Bahkan Emmet pun tidak berani mengganggu; ia menyingkir ke belakang, membiarkan sang nona menikmati kesendiriannya.
Perjalanan dari Nanjing ke Osaka tidak lama. Dua setengah jam kemudian, pesawat menjejak landasan Bandara Internasional Kansai.
Bandara yang dibangun di atas laut itu seolah tidak sadar telah menyambut penumpang paling tua dalam sejarahnya.
Saat itu pukul 06.30 pagi waktu Tokyo. Cahaya matahari baru menembus cakrawala, menyapu sayap pesawat dengan kilau keemasan lembut.
Vera—yang kini menggunakan identitas umum bernama Maria Wang—melewati bea cukai dengan tenang.
Tidak terburu-buru menuju kereta ke Kyoto, ia terlebih dahulu mampir di toko bandara. Ia membeli ransel bergambar karakter kartun Coolome, beberapa perhiasan lucu, serta karet gelang warna-warni.
Rambut kuncir kudanya diubah menjadi dua ekor kuda, memberi kesan remaja ceria yang sama sekali tak mencurigakan.
Dengan penampilan baru itu, ia melangkah keluar bandara.
Di stasiun, dengan bahasa Jepang fasih berlogat Kansai, ia membeli tiket dari Osaka ke Kyoto.
Sementara itu, Emmet dan para pengawal diam-diam menjaga jarak, memastikan keamanan dari kejauhan.
Usia panjang membawa banyak anugerah. Vera telah menjelajahi berbagai negeri, menyerap budaya dan bahasa mereka. Ia bukan hanya fasih, tapi peka terhadap nuansa tiap kata.
Pernah tinggal di Jepang selama Restorasi Meiji, bahasa Jepangnya kini bahkan lebih alami daripada penutur asli.
Bila dibandingkan, ia seperti orang asing yang tak hanya mahir berbahasa Mandarin, tetapi juga memahami dialek, sastra klasik, bahkan puisi kuno.
Selain itu, wajah Asia Timur sering kali mirip satu sama lain. Maka keberadaannya di Jepang tak mencolok—ia menyatu dengan keramaian seperti setetes air kembali ke samudra.
Bab 7318
Pukul 08.40 pagi, kereta tiba di Kyoto.
Kota itu bergerak dengan ritme yang lambat dan anggun. Meski modernisasi telah lama merambah, pesona tradisionalnya tetap terjaga: rumah-rumah kayu tua, lorong sempit, kuil berusia ratusan tahun—semuanya seperti potret hidup masa lalu.
Berbeda dengan Tokyo yang hiruk pikuk dan dipenuhi pendatang baru, Kyoto adalah rumah bagi orang-orang lama, para penjaga tradisi, dan bakat tersembunyi yang mendalam.
Vera tidak langsung menuju Kuil Kinkakuji. Ia memilih menyusuri gang-gang kecil kota tua, menikmati aroma kayu basah dan desir angin pagi yang menyentuh pipinya.
Setelah beberapa waktu berjalan, perutnya terasa lapar.
Ia menoleh dan melihat papan kayu tua bertuliskan “Yudofu Saito.” Sebuah restoran yang tampak sederhana tapi memancarkan wibawa usia.
Senyum tipis menghiasi bibirnya, lalu ia melangkah masuk.
Yudofu—hidangan tahu rebus khas Kyoto—biasanya sederhana: tahu lembut, rumput laut, dan serpihan bonito, disajikan dengan kecap atau miso.
Namun restoran ini berbeda. Hidangan andalannya adalah Yudofu Pu’er Matsutake, resep yang tak biasa bagi telinga siapa pun.
Kedai itu kecil dan hangat, dijalankan oleh pasangan lanjut usia.
Di dinding tergantung papan nama pudar bertuliskan “Didirikan tahun 1897.”
Begitu Vera masuk, pemilik pria menyapanya ramah, “Silakan duduk, Nona. Menu ada di atas meja. Panggil saya kapan pun ingin memesan.”
Vera mengangguk sopan dan memilih duduk di sudut dekat jendela. Ia menatap menu sebentar lalu menunjuk tulisan di bagian atas, “Sup Pu’er Matsutake dengan Tahu. Saya pesan satu, terima kasih.”
“Baik, mohon tunggu sebentar,” jawab pria itu dengan senyum tulus sebelum bergegas ke dapur.
Tak lama kemudian, semangkuk sup tahu disajikan di hadapan Vera.
Kuahnya bening, mengepul lembut. Aroma teh dan jamur matsutake berpadu, menciptakan wangi yang hangat dan menenangkan.
Vera melepas maskernya, menyesap perlahan. Rasa lembut dan gurih itu menari di lidahnya. Ia tersenyum kecil dan berbisik, “Rasanya luar biasa.”
Pemilik toko, sambil mengelap tangan dengan handuk, berkata bangga,
“Banyak toko yudofu di Kyoto, tapi hanya kami yang membuat versi Pu’er Matsutake.
Resep ini kami sempurnakan sejak tahun 1899, berdasarkan yudofu tradisional.”
Vera, dengan nada riang khas gadis muda, menatap kagum. “Wow, tempat ini… punya sejarah panjang juga.”
Pria itu tertawa kecil. “Ah, tidak juga. Di Kyoto, toko berusia seratus tahun belum dianggap tua. Ada toko lain di sini yang berusia empat ratus tahun, lho.”
Vera tersenyum, lalu bertanya dengan nada ingin tahu, “Tapi, kalau tak salah, teh Pu’er itu kan dari Tiongkok? Mengapa kakek buyutmu memilih menggunakannya?”
Wajah pria itu berubah lembut, matanya sedikit berkaca.
“Iya, benar sekali. Tahun 1899, toko kakek buyut saya baru berjalan dua tahun. Karena persaingan ketat, usaha mereka nyaris bangkrut. Saat itu, keluarga mereka—lima orang—hidup miskin dan menjajakan yudofu di tengah salju.”
“Pada masa sulit itu, ada seorang perempuan bernama Saito, yang baru pulang dari Tiongkok. Ia tinggal di rumah besar di pusat kota Kyoto dan mengasuh banyak anak yatim.”
“Melihat toko kami sepi, ia memesan lima puluh porsi yudofu setiap hari agar keluarga kami bisa bertahan.”
“Tak hanya itu, ia memberi kakek buyut saya daun teh Pu’er dan jamur matsutake kering yang dibawanya dari Tiongkok, dan memintanya mencoba membuat resep baru. Dari sanalah lahir yudofu khas Pu’er Matsutake ini.”
Suara pria itu bergetar halus. “Kakek buyut saya selalu berkata, Nona Saito adalah penyelamat keluarga kami. Tanpa dia, kami takkan selamat dari musim dingin tahun itu.”
“Ia pergi dari Kyoto setelahnya dan tak pernah kembali. Untuk mengenang jasanya, toko ini kami ganti namanya menjadi Yudofu Saito.”
Mata Vera melembut, kenangan lama menyeruak seperti kabut yang naik dari masa lalu.
Ingatan tentang Kyoto lebih dari seabad silam hadir jelas di benaknya.
Kala itu, musim dingin di Kyoto jauh lebih keras. Salju turun tebal, jalanan membeku putih. Dari dalam tandu, ia melihat keluarga miskin beranggotakan lima orang menjajakan yudofu di pinggir jalan.
Anak-anak kecil itu menggigil, wajah dan tangan mereka memerah karena radang dingin.
Tanpa berpikir lama, ia menyuruh pelayannya memesan lima puluh porsi yudofu setiap hari agar mereka tak kelaparan.
Setiap kali pesanan datang, rasa yudofu itu perlahan membaik. Ia bisa merasakan kerja keras dan ketulusan si penjual.
Selama sepuluh hari, ia terus memesan. Hingga suatu malam, ia sendiri menambahkan sedikit teh Pu’er dan jamur matsutake ke dalam kuahnya, lalu memberi resep itu kepada keluarga tersebut.
Tak disangka, resep itu bertahan lebih dari seabad—dan namanya kini terukir di papan kayu itu.
“Asako Saito,” ia tersenyum getir dalam hati. Itulah nama samaran yang ia gunakan kala tinggal di Kyoto.
Menatap mangkuk di depannya, aroma hangat yudofu yang sama dengan seratus tahun lalu memenuhi dada.
Ia menghela napas pelan, senyum samar menghiasi wajahnya.
“Waktu berlalu begitu cepat… tahun demi tahun terlewati. Sudah lebih dari seratus tahun sejak aku meninggalkan Kyoto…”
Demikian kisah/cerita dari Novel Charlie Wade Bab 7317 – 7318 gratis online. Semoga terhibur.
The Charismatic Charlie Wade / The Amazing Son-in-Law Chapter bab Novel Charlie Wade Bab 7317 – 7318.
Luar biasa jasa veralavor ini ya allah, mkasih penulis ttep sehat ttep semangat banyak rizkinya diberkahi selalu