Novel Charlie Wade Bab 7285 – 7286

si karismatik novel Charlie Wade lengkap gratis online free - stefan stefancik - unsplash @

Novel Charlie Wade Bab 7285 – 7286 dalam bahasa Indonesia. Diterjemahkan dari novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Naga Tertinggi Ye Chen – Xiao Churan”. Semoga bisa menikmati kisah / ceritanya yang semakin seru.

The Amazing Son-in-Law / The Charismatic Charlie Wade (Ye Chen) Chapter Bab 7285 – 7286.


Setelah lima menit menata pikirannya, pertanyaan pertama yang muncul di benak Bruce Brown—pemuda yang masih penuh energi namun juga dikuasai amarah—adalah: siapa di lingkungan ini yang lebih bengis dan lebih kejam darinya?

Kemarahannya masih sama seperti tadi, tetapi tanpa Charlie sebagai sasaran, ia butuh lawan baru untuk melampiaskannya.

Tak lama, sebuah nama terlintas di benaknya: Liam. Sosok yang selama ini paling ia enggan hadapi.

Liam hanya tiga tahun lebih tua dari Bruce Brown, tetapi jauh lebih berpengalaman. Sejak muda ia sudah akrab dengan jalanan, merampok pejalan kaki atau toko kecil demi bertahan hidup.

Namun, dua atau tiga tahun terakhir, Liam berhasil merapat ke sebuah geng kecil yang cukup disegani di lingkungan sekitar, dan kini ia menjadi bagian dari kelompok itu.

Struktur geng di Australia mirip dengan yang ada di Eropa dan Amerika. Meskipun tidak seformal organisasi besar, hierarki mereka jelas dan ketat.

Di setiap kota, geng-geng terkuat menguasai bisnis paling menggiurkan, mulai dari barang selundupan hingga perjudian.

Tapi bahkan geng besar pun tak bisa memonopoli semuanya. Selalu ada pemain lain dengan kekuatan sebanding yang membagi wilayah dan bersaing satu sama lain.

Sementara itu, di wilayah yang tidak terlalu dilirik geng papan atas, muncul geng-geng kecil yang mencari untung dari bisnis kotor lain: ada yang mengandalkan prostitusi, ada pula yang bertumpu pada pemerasan dan pungutan liar.

Liam tergolong di level itu. Kelompoknya tidak memiliki bisnis terstruktur, hanya menambang remah-remah dari sisa-sisa pasar gelap.

Contohnya, barang selundupan yang didistribusikan geng besar ke tangan para pengedar menengah, akan dicampur bahan kimia lalu dipaketkan dalam bentuk kecil dengan harga puluhan dolar.

Dari situ, geng kecil seperti milik Liam menjualnya kepada para pengguna jalanan.

Metamfetamin—narkoba paling populer di Australia—menjadi dagangan utama. Pasarnya terbagi jelas: kelas atas seperti orang kaya, pekerja kerah putih, influencer, hingga pekerja seks komersial yang nongkrong di klub malam.

Mereka adalah pelanggan premium, sapi perah yang selalu diperas habis-habisan.

Namun, geng kecil seperti Liam tak punya akses ke sana. Jika nekat masuk ke wilayah hotel atau klub elit dengan barang kualitas rendah, mereka bisa dilibas dalam sekejap oleh geng besar.

Itulah arti “teritori.”

Menguasai teritori kelas atas ibarat menggenggam tambang emas—pemiliknya pasti mempertahankannya sampai titik darah penghabisan.

Karena itulah geng Liam hanya bisa berkeliaran di jalan-jalan kumuh, menjual ke para pecandu miskin yang rela mencuri atau menipu demi sekantong kecil barang haram.

Tetap saja, keuntungan yang mereka peroleh tidak kecil.

Sekantong barang senilai seratus dolar Australia bisa memberi margin setidaknya empat puluh dolar. Jika kelompok Liam mampu menguasai daerah kumuh dengan ratusan pelanggan tetap, maka setiap hari mereka bisa mengantongi puluhan ribu dolar bersih.

Sebagai anggota rendahan, Liam pun masih bisa meraup ratusan dolar sehari. Di kawasan kumuh Melbourne, angka itu terbilang luar biasa—mengalahkan rata-rata penghasilan penduduk yang hanya sekitar seratus dolar sehari.

Dengan penghasilan stabil, Liam bisa hidup jauh lebih mapan daripada banyak pekerja kantoran.

Sebaliknya, Bruce Brown begitu tertinggal. Ia ingin masuk lingkaran itu, tapi tidak punya pintu masuk. Kelompok kecilnya tak memiliki wilayah, sehingga tidak berani terjun ke bisnis narkoba.

Hasilnya, ia tak punya penghasilan tetap. Sesekali merampok di jalan menjadi satu-satunya cara mengisi perut.

Beberapa bulan lalu, ia bahkan sampai menabung beberapa ratus dolar demi bisa makan malam bersama Liam.

Di meja makan itu, Bruce menyodorkan semua hidangan mahal kepada Liam, sementara dirinya menahan lapar. Dengan penuh kerendahan hati ia memohon agar diperkenalkan ke geng.

Namun, Liam hanya menuntaskan makanannya, lalu dengan dingin berkata bahwa bajingan kelas teri seperti Bruce tidak pantas bergabung, bahkan makan bersamanya saja bisa menurunkan martabat.

Kemudian ia bangkit dan meninggalkannya begitu saja.

Saat itu, Bruce merasa dipermalukan. Tapi ia tak punya nyali untuk melawan. Ia hanya bisa menelan ludah dan bersumpah suatu hari nanti akan berada di atas Liam dan menghancurkannya.

Keberanian yang dulu tak pernah dimilikinya kini justru dipantik oleh sugesti Charlie.

Bab 7286

Bruce menggenggam tongkat bisbolnya, lalu dengan tatapan penuh ambisi berkata pada anak buahnya, “Ayo kita cari Liam dan hajar dia! Mulai sekarang, aku akan jadi bintang baru paling berpengaruh di Melbourne Selatan.”

“Siapa tahu bos besar terkesan dan menjadikanku penerusnya. Saat itu tiba, kita benar-benar akan terbang tinggi!”

Sugesti psikologis bekerja layaknya cap mental—memaksa orang mempercayainya begitu dalam sampai menutup mata terhadap kenyataan.

Bruce, yang minim pendidikan dan dangkal pemahamannya tentang hidup, terbuai ilusi itu. Kebiasaannya menonton film gangster semakin menguatkan khayalan bahwa kesempatan emas bisa mengubah nasibnya.

Maka, di kepalanya kini hanya ada satu tujuan: menyingkirkan Liam dengan kekerasan.

Rombongan Bruce pun bergerak menuju blok berikutnya, sementara Charlie meminta Isaac mengemudi perlahan di belakang mereka.

Blok itu lebih kotor dan kumuh dibanding sebelumnya. Ada dua tempat suntik aman, dan di bawah jembatan layang berdiri puluhan tenda reyot tempat para pecandu berkumpul. Jumlah mereka tak kurang dari seratus orang.

Di tengah kerumunan itu, tampak sejumlah pemuda berpenampilan rapi, dengan pakaian bagus dan perhiasan emas mencolok. Mereka adalah pengedar yang menjajakan barang selundupan.

Di antara mereka, seorang pemuda berambut keriting dengan kulit campuran tampak sibuk melayani pecandu. Tatapannya jatuh pada seorang wanita paruh baya yang sedang menghitung uang receh.

Wanita itu memohon, “Liam, aku masih kurang tiga puluh dolar. Bisa kubayar besok?”

Ia adalah pelacur jalanan yang sebelumnya sempat mendekati Isaac.

Liam mendengus, “Kalau tak ada uang, jual tubuhmu. Hari masih panjang. Kembalilah setelah dapat hasil.”

Wanita itu meratap, “Aku belum mengisap seharian, Liam. Kalau begini terus, aku tak akan punya tenaga melayani pelanggan. Tolong, berikan dulu barangnya… Aku akan lakukan apa pun untukmu! Bukankah kamu suka layananku sebelumnya?”

Liam menukas dingin, “Sekarang aku anggota resmi Geng Saint Blue. Kalau masih meladeni perempuan rendahan sepertimu, bagaimana reputasiku? Jangan buang waktuku, pergi cari uang.”

Wanita itu tampak bimbang. Ingin memohon lagi, tapi takut makin memperburuk keadaan.

Liam meliriknya, lalu tersenyum miring. “Begini saja, aku beri barang dulu. Tapi setelah kamu selesai menikmatinya, pastikan bekerja lebih keras. Malam ini jam delapan aku menemuimu. Kau harus membayar lima puluh dolar, termasuk bunganya.”

Wanita itu terperanjat. “Lima puluh? Aku hanya berutang tiga puluh…”

Tapi ia tak punya pilihan. Tubuhnya meronta butuh barang itu. Ia mengangguk pasrah. “Baik, lima puluh!”

Liam menyerahkan sekantong kecil barang selundupan dan memperingatkan, “Kalau malam ini kamu gagal bayar, besok jadi delapan puluh.”

Wanita itu buru-buru menerima dan berlari ke tendanya.

Liam tersenyum sinis, hendak mencari mangsa lain, ketika tiba-tiba terdengar teriakan:

“Liam!”

Ia menoleh, dan sosok gelap melesat cepat. Tongkat bisbol Bruce Brown menghantam dari samping, mengarah tepat ke kepalanya.

Refleks dan pengalaman menyelamatkan Liam. Ia sempat memalingkan wajah, tapi hantaman itu tetap menghajar bahunya. Bahu kanannya hancur, membuatnya jatuh tersungkur kesakitan.

“Bruce Brown, bajingan! Berani-beraninya kamu memukulku!” teriak Liam, matanya merah padam.

Bruce mendesis, “Kamu meremehkanku, Liam! Hari ini aku akan membunuhmu!”

Tongkat itu kembali diayunkan. Liam mencoba melarikan diri, namun Bruce terus mengejarnya. Kerumunan kacau.

Beberapa anggota geng lain bergegas membantu. Bahu Liam yang cedera membuatnya terhuyung dan akhirnya jatuh ke aspal. Bruce bersiap memukul kakinya ketika terdengar suara keras:

“Letakkan tongkatmu!”

Pistol diarahkan padanya. Namun Bruce, terbakar amarah, hanya menggertakkan gigi. “Tak ada yang bisa menghentikanku!”

Dua letusan menggema. Peluru menembus kaki kanannya, membuatnya roboh.

Sekejap kemudian, para anggota geng menghajarnya. Bruce dipukuli sampai babak belur, tubuhnya ditindih paksa ke aspal.

Di wilayah kekuasaan Liam, pasukannya berhamburan dalam sekejap, mengepung situasi.

Melihat Bruce meraung kesakitan, Charlie hanya menggeleng, mendesah pelan.

“Aku kira bocah ini bisa jadi karakter tangguh, minimal punya cerita serangan balik pecundang. Tapi ternyata… baru mulai saja sudah dikalahkan begini. Dasar pecundang sejati.”


Demikian kisah/cerita dari Novel Charlie Wade Bab 7285 – 7286 gratis online. Semoga terhibur.

The Charismatic Charlie Wade / The Amazing Son-in-Law Chapter bab Novel Charlie Wade Bab 7285 – 7286.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*