Novel Charlie Wade Bab 7273 – 7274

si karismatik novel Charlie Wade lengkap gratis online free - stefan stefancik - unsplash @

Novel Charlie Wade Bab 7273 – 7274 dalam bahasa Indonesia. Diterjemahkan dari novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Naga Tertinggi Ye Chen – Xiao Churan”. Semoga bisa menikmati kisah / ceritanya yang semakin seru.

The Amazing Son-in-Law / The Charismatic Charlie Wade (Ye Chen) Chapter Bab 7273 – 7274.


Setelah Jacob dan Elaine terlelap dalam kondisi koma ringan, Marisha membuka jendela belakang lalu menyalakan AC. Begitu udara di dalam mobil terasa segar kembali, ia menurunkan layar televisi dari balik partisi.

Claire menoleh, memandang kedua orang tuanya yang tertidur dengan damai. Dada mereka terangkat dan turun perlahan mengikuti irama napas yang tenang. Rasa lega pun mengalir dalam dirinya.

Marisha menatap Claire, tersenyum tipis, dan berkata dengan nada menenangkan, “Jangan khawatir, Nona Wilson. Mereka berdua dalam keadaan aman.”

“Baik,” jawab Claire pelan, sambil mengangguk tipis.

Lalu ia teringat sesuatu dan bertanya, “Ngomong-ngomong, saat Charlie tiba di Australia, dia pasti akan segera mencariku. Kalau aku tidak bisa menghubunginya, dia akan gelisah. Bisakah kamu meninggalkan pesan untuknya?”

Marisha menatapnya dengan penuh pengertian. “Setelah Anda naik kapal, kami akan mengurus semua itu.”

“Tuan Muda pasti khawatir, tetapi bagaimana pun, perpisahan tidak pernah lepas dari rasa sakit. Itu bukan sesuatu yang bisa saya hapuskan. Saya hanya bisa membiarkan Tuan Muda menghadapi luka itu sendiri, sampai perlahan-lahan ia terbiasa.”

Ia menambahkan dengan nada serius, “Nona Wilson, meski perpisahan akan menyayat hati, pada akhirnya semua ini demi kepentingan besar. Ini untuk balas dendam Tuan Muda, sekaligus untuk keselamatan Anda dan keluarga.”

“Saya mengerti,” jawab Claire dengan senyum getir. Ia menunduk, bergulat dengan perasaannya sendiri.

Dalam hati ia berbisik lirih, “Aku tidak boleh lagi menjadi beban bagi Charlie. Dia sudah menanggung begitu banyak. Aku bukan hanya tak berguna baginya, malah semakin menyeret langkahnya. Semoga setelah aku pergi, dia bisa bernapas lebih lega, lalu berkonsentrasi penuh pada apa yang harus ia lakukan.”

Konvoi kendaraan melaju di jalan tol dengan kecepatan penuh. Perjalanan dari Aurous Hill menuju Kota Pulau Qilu berlangsung tanpa hambatan.

Tanpa Claire sadari, deretan mobil serupa dengan yang ia tumpangi bermunculan di jalan raya. Semuanya berwarna sama, model sama, bahkan masih baru tanpa plat nomor resmi.

Marisha, tanpa berkata banyak, merobek plat nomor sementara dari kaca depan mobil. Mobil-mobil lain pun melakukan hal serupa.

Kaca jendela belakang mereka dibuat sepenuhnya buram. Sedangkan kaca depan, meski tampak bening, sudah dimodifikasi secara khusus.

Kamera pengawas di sepanjang jalan hanya mampu menangkap bayangan samar putih, bahkan dengan cahaya lampu kilat sekalipun. Mustahil ada gambaran jelas tentang siapa yang berada di dalamnya.

Tak lama kemudian, mobil-mobil identik itu mulai saling mendahului, berpindah posisi, dan berbaur. Puluhan mobil tampak seperti kepingan mahjong yang terus digeser di atas papan.

Formasi mereka berganti-ganti hingga tak seorang pun bisa mengenali mana yang asli.

Setelahnya, kendaraan-kendaraan itu berpencar di simpang berbeda, sebagian berbelok ke arah lain, sebagian lagi keluar dari jalan tol. Dari kejauhan, tampak seperti percikan kembang api yang menyebar ke segala arah.

Semua ini adalah taktik untuk mengaburkan pandangan Charlie. Dengan begitu banyak mobil kembar yang bercampur, hampir mustahil baginya menebak kendaraan mana yang membawa Claire.

Jika Charlie nekat mencari, satu-satunya jalan adalah mengikuti jejak setiap mobil, satu per satu, hingga tak tersisa.

Namun, setiap jejak hanyalah teka-teki baru tanpa kepastian. Bahkan bila diberi waktu setahun atau dua tahun, ia mungkin tetap tak bisa memastikan di mana Claire berada.

Sekalipun ia berhasil menebak bahwa tujuan mereka adalah Kota Pulau Qilu, lalu apa? Setelah itu, Claire akan memasuki lautan luas, berpindah dari satu kapal ke kapal lain. Begitu jejak hilang di laut, pencarian akan menjadi mimpi buruk.

Bab 7274

Ashley-lah otak di balik semuanya. Ia sadar betul, kekuatan Charlie kini luar biasa.

Dengan kecerdasan buatan yang dimilikinya, ditambah bantuan detektif ulung seperti Duncan, membuat Claire “lenyap” tanpa bekas nyaris mustahil. Karena itu, Ashley memilih cara lain: bukannya menghapus jejak, justru menebar jejak ke segala penjuru.

Metode ini ibarat mimpi buruk bagi penyelidik. Jika hanya ada satu tersangka, fokus penuh akan membawa mereka pada kebenaran.

Tapi bila ada seratus tersangka, itu berarti seratus pintu misteri yang harus dibuka satu per satu. Hanya kelelahan yang akan menunggu di ujungnya.

* * *

Pukul tiga dini hari, mobil Claire tiba di pelabuhan Kota Pulau. Sebuah kapal barang raksasa telah menunggu, penuh kontainer, siap berlayar ke Selandia Baru.

Begitu memasuki perairan internasional, kapal itu akan bertemu dengan kapal kargo lain yang berangkat dari Shanghai menuju Argentina. Di situlah Claire dan keluarganya akan dipindahkan. Dari sana, mereka melanjutkan pelayaran ke arah tenggara.

Beberapa ratus mil laut menjelang Tahiti, sebuah kapal pesiar mewah milik taipan Silicon Valley sudah dijadwalkan menjemput. Kapal itu akan membawa mereka menuju Kepulauan Windward di Polinesia Prancis.

Tahiti sendiri bukanlah tujuan akhir. Ashley telah menyiapkan sebuah pulau kecil yang tersembunyi di kepulauan tersebut—pulau pribadi, tak terdaftar, dan sepenuhnya tertutup bagi publik.

Mobil yang membawa Claire langsung masuk ke dalam sebuah kontainer kosong. Pintu ditutup rapat, lalu kontainer diangkat dengan derek dan diletakkan di dek, bukan di tumpukan kontainer lainnya.

Begitu kontainer dibuka, Marisha menyalakan mesin mobil dan keluar perlahan. Seorang staf menyapa dengan hormat, “Selamat datang, Nyonya Wade.”

Claire sempat tertegun. Ia belum terbiasa disambut begitu, apalagi dengan sebutan itu.

Seorang wanita paruh baya menghampirinya, berkata dengan penuh kelembutan, “Nyonya, kapal akan segera berangkat. Anda pasti lelah, mari saya antar ke kabin untuk beristirahat.”

Dengan gelisah, Claire bertanya, “Bagaimana dengan orang tua saya?”

Wanita itu tersenyum menenangkan. “Mereka akan kami bawa ke ruang observasi, ditemani dokter sepanjang waktu. Mereka mungkin baru sadar besok sore. Saat itu tiba, kami akan memberi tahu Anda.”

Empat staf medis datang mendorong dua ranjang lipat. Wanita itu kembali menatap Claire. “Apakah ada pertanyaan lain, Nyonya Wade?”

Claire menggeleng pelan. “Tidak ada. Terima kasih sudah merawat mereka.”

“Jangan khawatir,” jawab wanita itu ramah. “Nanti Anda bisa menemui mereka kapan saja setelah istirahat.”

Claire mengangguk. Marisha membantunya membawa barang-barang masuk ke kabin.

Kapal kargo ini ternyata sudah dimodifikasi. Beberapa kamar diubah menjadi suite setara hotel bintang lima. Ada pula ruang medis, ruang santai, ruang makan, bahkan bioskop mini.

Semua kebutuhan sudah disiapkan dengan standar tertinggi. Kokinya adalah chef Michelin, dan bahan makanan yang digunakan berasal dari kualitas terbaik dunia.

Pemandu itu menjelaskan satu demi satu, sementara Claire hanya bisa terkesima.

Ketika akhirnya sampai di kamarnya, ia tak kuasa menahan diri untuk berbisik kagum, “Hanya sepuluh hari di kapal… rasanya tidak perlu bersusah payah sejauh ini.”

Wanita itu tersenyum penuh hormat. “Anda adalah istri Tuan Muda. Meski hanya dua jam, kami harus memastikan semuanya sempurna.”

Hatinya terasa perih, tetapi Claire tetap menjawab sopan, “Terima kasih.”

Wanita itu menunduk, “Nyonya, kami hanyalah pelayan. Anda tidak perlu begitu sopan.”

Setelah itu, ia menyerahkan Claire kepada Marisha. “Silakan beristirahat. Kapal akan berlayar sepuluh menit lagi.”

Claire hanya mengangguk.

Ia tak menyadari semua ini lahir dari rencana Ashley—campuran rasa bersalah dan persiapan matang agar kelak, saat kebenaran terungkap, Charlie bisa menerima dengan lebih tenang.

Sepuluh menit kemudian, peluit panjang terdengar. Kapal barang perlahan meninggalkan dermaga, berlayar ke Laut Kuning.

Claire berdiri di balik jendela, memandang pelabuhan yang makin menjauh. Air mata kembali mengalir, membasahi wajahnya yang pucat…


Demikian kisah/cerita dari Novel Charlie Wade Bab 7273 – 7274 gratis online. Semoga terhibur.

The Charismatic Charlie Wade / The Amazing Son-in-Law Chapter bab Novel Charlie Wade Bab 7273 – 7274.

1 Comment

  1. Mulai sedih dan membawa peraaan

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*