Novel Charlie Wade Bab 7261 – 7262

si karismatik novel Charlie Wade lengkap gratis online free - stefan stefancik - unsplash @

Novel Charlie Wade Bab 7261 – 7262 dalam bahasa Indonesia. Diterjemahkan dari novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Naga Tertinggi Ye Chen – Xiao Churan”. Semoga bisa menikmati kisah / ceritanya yang semakin seru.

The Amazing Son-in-Law / The Charismatic Charlie Wade (Ye Chen) Chapter Bab 7261 – 7262.


Setelah mandi, Charlie merebahkan diri di ranjangnya sendiri, menyelimuti tubuhnya sebagaimana biasanya.

Dengan kebiasaan yang sama pula, ia meraih ponselnya untuk memeriksa beberapa pesan WeChat yang belum sempat ia balas.

Tak lama kemudian, ketika Claire keluar dari kamar mandi, pandangan Charlie tak kuasa mengabaikan sosoknya.

Claire mengenakan gaun tidur model halter berwarna merah muda pucat, terbuat dari sutra yang memantulkan kilau lembut di bawah cahaya lampu.

Kulitnya, yang sedikit merona akibat sentuhan alkohol, tampak berkilau antara merah dan putih, menghasilkan kontras yang begitu menawan.

Claire bertubuh tinggi semampai, ramping, namun lekuknya begitu sempurna. Bagian dada yang padat berisi semakin menonjol karena potongan gaun yang rendah, seakan siap melesak keluar.

Setiap kali ia bergerak, payudaranya bergetar halus, membuat cahaya gaun sutra yang berkilauan itu kian menggoda.

Garis pinggang gaun tidur itu meruncing pas di tubuhnya, menampilkan bentuk ramping Claire dengan begitu indah.

Wanita yang biasanya tampil serius dalam setelan bisnis ini ternyata menyimpan siluet berbentuk S yang membuat iri para model papan atas.

Baju tidur itu sebenarnya sudah lama ia beli, namun tak pernah sekalipun dipakainya.

Alasannya sederhana: ia selalu merasa gaun itu terlalu terbuka.

Padahal, gaun tidur memang dirancang demi kenyamanan, dan lumrah bila sedikit terbuka. Bukankah itu hanya untuk dikenakan di dalam rumah, di kamar pribadi, bukan untuk dipamerkan di luar sana?

Tetapi situasi Claire berbeda.

Seorang wanita lajang di kamar tidurnya tentu bebas mengenakan apa saja—atau bahkan tak mengenakan apa-apa sekalipun.

Seorang wanita menikah juga tak perlu merasa terikat di ranjangnya sendiri, sebab itu adalah ruang tanpa batas bersama suaminya.

Namun Claire berada di posisi di antara keduanya. Ia bukan lajang, tetapi juga belum sepenuhnya “istri” dalam arti yang sebenarnya.

Meski sudah sekian lama berbagi kamar dengan Charlie, di antara mereka selalu ada jarak tak kasat mata, kecanggungan yang sulit dijelaskan, karena hubungan mereka belum mencapai tahap akhir.

Karena itu, meski baju tidur ini sudah lama tergantung di lemarinya, ia tak pernah berani memakainya di hadapan Charlie.

Namun malam ini berbeda. Ia sudah lama menyiapkan diri secara mental, dan itulah sebabnya gaun tidur ini ia bawa.

Charlie terdiam menatapnya. Darah mudanya mendidih, gairahnya terbangkitkan, tetapi ia menundukkan pandangan, enggan menyinggung harga diri Claire.

Ia menahan dorongan hatinya dan pura-pura menekuni layar ponsel.

Namun Claire, yang mampu membaca kegugupan Charlie, segera mengulurkan tangan mematikan lampu utama, menyisakan hanya dua lampu redup di sisi ranjang.

Ia lalu naik ke sisi tempat tidurnya, berbaring telentang dengan tatapan kosong ke langit-langit.

Beberapa menit berlalu, tiba-tiba Charlie merasakan Claire mengangkat sedikit selimutnya. Sebelum ia sempat bereaksi, tubuh Claire sudah menyelip di sampingnya.

Sutra dingin gaun tidur itu terasa bagai es saat bersentuhan, tetapi kulit hangat tubuhnya membakar syaraf Charlie. Perpaduan dua sensasi itu membuat tubuhnya kaku, seolah membeku.

Sepanjang hidupnya, Charlie hanya pernah dua kali merasakan kontak intim dengan seorang wanita: pertama, ketika Vera mengangkat tubuhnya dari mata air panas saat ia sekarat; kedua, ketika Helena memeluknya erat saat ia tak sadarkan diri.

Karena situasi yang begitu darurat, kenangan itu samar, tak pernah jelas.

Namun kini, dengan Claire di sisinya, setiap detik begitu nyata, setiap sentuhan begitu terang, seakan terukir di dalam hatinya.

Ia tak tahu apa maksud Claire, namun tanpa sadar bibirnya bergumam, “Istriku, kamu… apa yang sedang kamu lakukan…”

Kata-kata itu hampir saja lolos, tapi ia urungkan. Meski secara hukum mereka memang suami-istri, menanyakan secara gamblang alasan istrinya naik ke ranjangnya terasa terlalu canggung.

Namun Claire mengerti. Dengan keberanian yang ia kumpulkan, ia berkata pelan, “Charlie, kita sudah lama menikah. Saatnya kita melangkah ke tahap berikutnya. Bagaimana menurutmu?”

Charlie terguncang. Hatinya berbunga, namun lidahnya kelu. Ia ragu-ragu menanggapi, “Istriku, bukankah kamu dulu pernah bilang tak ingin melangkah lebih jauh?”

Bab 7262

Claire menunduk malu. “Waktu itu… karena aku masih muda, masih bodoh. Meski aku tak menolak keputusan Kakek, dalam hatiku masih ada penolakan. Karena itu, selama bertahun-tahun kita hidup dalam keadaan yang tak wajar ini…”

Ia menarik napas panjang, lalu menatap Charlie dengan sungguh-sungguh. “Tapi sekarang aku sudah lama menerimanya. Aku tahu suasana ini terbentuk karena sikapku di awal, dan sekarang aku sendiri yang harus mengubahnya.”

“Aku memang pendiam, tapi bagaimanapun aku harus berani mengambil langkah ini. Malam ini aku ingin memberikan diriku seutuhnya padamu… anggap saja hadiah ulang tahunku.”

Charlie terdiam. Hatinya berkecamuk.

Ia jelas sangat mencintai Claire. Tetapi di lubuk hati terdalam, ia sering merasa bahwa Claire mungkin tak sungguh-sungguh mencintainya.

Sejak awal, hubungan mereka tumbuh bukan dari cinta, melainkan dari kebersamaan yang lambat laun berubah menjadi ikatan keluarga. Ia tak pernah berani memaksa lebih.

Saat menikahi Claire, ia sadar betul betapa dirinya tak pantas. Meski kini ia jauh berbeda dari dulu, rasa rendah diri itu tetap melekat.

Ia tak pernah berani berharap Claire bisa mencintainya. Dalam pikirannya, cinta yang tak bersemi sejak awal, betapapun seseorang berubah, tetap sulit tumbuh.

Namun, siapa sangka—di tahun keenam pernikahan mereka, tepat di malam ulang tahunnya yang ke-29—Claire justru yang lebih dulu membuka pintu.

Melihat Charlie yang masih tertegun, Claire bergumam dengan perasaan bersalah, “Charlie, apa selama ini kamu hanya menganggapku keluarga?”

“Tidak!” Charlie menjawab cepat, tegas. “Sejak kamu menikah denganku, aku tak pernah menganggapmu selain istriku.”

Claire menggigit bibir, merasa terzalimi. “Kalau begitu, kenapa kamu masih diam saja? Kalau menunggu lebih lama, sebentar lagi tengah malam…”

Charlie tak mungkin tak tergoda, namun ia khawatir Claire hanya terpengaruh alkohol. “Sayang, kamu minum cukup banyak malam ini. Apa ini karena itu?”

Claire langsung menggeleng tegas. “Tidak! Keputusan ini sudah kupikirkan jauh sebelum malam ini. Kalau tidak, aku takkan membawa gaun ini.”

“Selama enam tahun menikah, kapan kamu pernah melihatku memakai sesuatu seperti ini di depanmu?”

Charlie merenung sejenak, lalu tersenyum nakal. “Sejujurnya… belum pernah.”

Claire memerah, malu sekaligus kesal. “Aku sudah berinisiatif, tapi kamu malah ragu-ragu. Kalau tahu begini, aku takkan berkata apa-apa!”

Charlie baru tersadar, segera menarik tubuhnya ke pelukan. “Maaf, sayang. Aku hanya takut kamu akan menyesal.”

Claire menatapnya dalam, suara lembut namun pasti. “Aku takkan menyesal menyerahkan diriku padamu. Penyesalanku hanyalah karena aku terlambat melakukannya…”

Ia menarik napas, lalu berbisik penuh emosi, “Suamiku, masa lalu biarlah berlalu. Yang terpenting sekarang adalah menikmati saat ini, kan?”

Mendengar itu, Charlie akhirnya yakin. Keputusan Claire bukanlah sesaat, melainkan tekad yang telah matang.

Hatinya luluh, gairahnya bangkit. Ia membalikkan tubuh, menindih Claire dengan lembut, dan mencium bibir merahnya.

Tubuh Claire bergetar halus. Ia membalas ciuman itu, kaku namun penuh semangat.

Dalam enam tahun pernikahan, inilah pertama kalinya bibir mereka bersatu sedalam ini.

Cinta Charlie mengalir deras, sementara di hati Claire bercampur pula rasa pedih akan perpisahan yang segera datang. Rasa sakit itu berubah menjadi cinta yang membanjir bagai pasang.

Setelah itu, semuanya mengalir alami.

Tubuh Claire menegang, jarinya mencengkeram punggung Charlie. Pada malam ini, enam tahun setelah pernikahan, ia akhirnya benar-benar menjadi istrinya.

Dan di sisa waktu sebelum ia pergi, Claire menyerahkan seluruh dirinya.

Meski dulu Charlie pernah menipunya, saat ini ia sudah tak peduli. Keputusan itu bukan karena keterpaksaan, melainkan karena cinta.

Claire tahu, ia sudah jatuh hati pada Charlie. Bahkan jika kelak harus meninggalkannya, ia takkan bisa mencintai pria lain.

Ia juga merasa berutang terlalu banyak selama enam tahun ini. Jurang di antara mereka terlalu dalam, dan satu-satunya yang bisa ia berikan sebagai balasan hanyalah cinta sepenuhnya.

Malam ini, Charlie benar-benar berubah menjadi pria dewasa.

Ia memeluk Claire erat-erat, hatinya campur aduk antara ketidaknyataan dan rasa takut kehilangan. Namun tubuh hangat Claire di pelukannya membuat kegelisahan itu lenyap, digantikan rasa syukur mendalam.

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak kematian orang tuanya dua puluh tahun lalu, Charlie tidur nyenyak seperti seorang bayi…


Demikian kisah/cerita dari Novel Charlie Wade Bab 7261 – 7262 gratis online. Semoga terhibur.

The Charismatic Charlie Wade / The Amazing Son-in-Law Chapter bab Novel Charlie Wade Bab 7261 – 7262.

4 Comments

  1. Akhirnya Claire..
    Setelah selama ini Charlie menahan
    Kalau aku ngga sanggup selama itu.

  2. 1 lelaki bahagia, sejuta lelaki lain ikut merasakan gelinya wkwk

  3. Congrats to Babang Charlie… 7 ribuan bab, dan 6tahun pernikahan, babang charlie akhirnya merasakan serabi lempitnya neng claire.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*