Novel Charlie Wade Bab 7257 – 7258

si karismatik novel Charlie Wade lengkap gratis online free - stefan stefancik - unsplash @

Novel Charlie Wade Bab 7257 – 7258 dalam bahasa Indonesia. Diterjemahkan dari novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Naga Tertinggi Ye Chen – Xiao Churan”. Semoga bisa menikmati kisah / ceritanya yang semakin seru.

The Amazing Son-in-Law / The Charismatic Charlie Wade (Ye Chen) Chapter Bab 7257 – 7258.


Penampilan terakhir Quinn berlangsung di tengah derasnya hujan salju yang menutupi langit malam.

Para penggemar sama sekali tidak terusik oleh dinginnya cuaca. Justru, mereka larut dalam suasana syahdu, seakan menikmati sebuah pemandangan yang indah sekaligus menyayat hati—momen yang perlahan akan menjadi kenangan.

Quinn tampil tanpa cela sepanjang konser ini. Setiap bait lagu ia lantunkan dengan penuh perasaan, tanpa sedikit pun kesalahan.

Setelah hampir dua jam menghibur, Quinn menutup satu lagu dengan senyuman lembut di wajahnya, lalu berkata,

“Konser malam ini menampilkan seorang sahabat yang datang dari jauh. Ia menempuh perjalanan panjang dari Prancis untuk hadir sebagai tamu. Saya yakin kalian sudah bisa menebak siapa yang saya maksud, bukan?”

Begitu kalimat itu selesai terucap, riuh sorakan penonton menggema memenuhi arena.

Semua orang tahu, beberapa hari terakhir Tawanna berada di Paris untuk serangkaian konser. Maka saat Quinn menyebut tamu istimewa dari Prancis, tak ada yang meragukan lagi—tentu saja itu adalah Tawanna Sweet.

Seperti yang diketahui, hubungan Quinn dan Tawanna memang sangat dekat. Quinn bahkan pernah menjadi tamu di panggung Tawanna sebelumnya. Karena itu, sangat wajar jika kini giliran Tawanna yang hadir di konser Quinn.

Quinn kembali mendekat ke mikrofon, suaranya bergetar oleh semangat, “Sekarang, mari sambut dengan tepuk tangan paling meriah untuk sahabat kita semua, Tawanna Sweet, yang datang jauh-jauh dari seberang lautan!”

Sorakan penonton memuncak, tepuk tangan membahana.

Bagi mereka, kesempatan menyaksikan dua bintang dunia tampil dalam satu malam adalah pengalaman yang tak ternilai.

Begitu kata-kata Quinn berakhir, lampu panggung seketika meredup.

Kabut asap menyelimuti panggung, seolah menarik tirai tipis yang menutupi pandangan penonton.

Di tengah kepulan asap itu, Quinn diam-diam melangkah turun, menyerahkan sorotan panggung pada bintang tamunya.

Kemudian, cahaya kembali memancar terang. Musik mulai mengalun—lagu yang sudah sangat familiar di telinga semua orang, lagu legendaris milik Tawanna: Love Story.

Asap panggung perlahan terbuka, dan dari tengahnya muncullah Tawanna, naik dengan anggun dari lift tersembunyi. Sontak penonton meledak dalam sorakan penuh antusias. Suara mereka menggema, mengisi udara malam.

Meskipun udara menusuk dingin, Tawanna mengenakan gaun berpayet yang memukau. Potongannya menyerupai baju renang one-piece, namun dihias payet emas yang berkilauan, membuatnya tampak bersinar bagaikan bintang di atas panggung.

Berbeda dengan Quinn yang selalu menjaga jarak, Tawanna sejak awal tampil justru menyorotkan seluruh perhatiannya pada Charlie. Dari balik panggung ia sudah mencarinya, dan ketika berdiri di bawah sorotan lampu, matanya langsung tertuju padanya tanpa ragu.

Claire, yang berdiri di sisi Charlie, segera menyadari arah tatapan itu. Ia tahu, pandangan penuh gairah itu bukan ditujukan padanya, melainkan pada suaminya.

Charlie sendiri merasa canggung. Tatapan intens Tawanna membuatnya diliputi rasa bersalah. Ia pun berusaha menghindar, takut Claire menangkap sesuatu yang tak seharusnya.

Di atas panggung, Tawanna menyanyi dengan sepenuh jiwa. Setiap nada penuh energi, setiap gerakannya menawan. Malam itu ia sengaja memilih lagu-lagu cinta yang sarat emosi, seakan ingin menyampaikan seluruh isi hatinya hanya kepada Charlie.

Charlie makin rikuh. Ia menundukkan pandangan, enggan beradu mata dengannya.

Namun, sikap menghindar itu justru membuat Tawanna kian berani. Ia melangkah mendekat ke tepi panggung, berdiri pada titik terdekat dengan Charlie, lalu menyanyi dengan lebih bergelora.

Bab 7258

Usai membawakan lima lagu berturut-turut, Tawanna mengangkat mikrofon, lalu berkata dalam bahasa Mandarin yang begitu fasih, “Merupakan suatu kehormatan bagi saya bisa menjadi tamu di konser terakhir Nona Golding.”

“Saya berharap kalian semua menikmati malam ini, dan saya berdoa setiap pasangan yang hadir di sini menemukan cinta sejati mereka.”

Ucapannya dalam bahasa Mandarin langsung disambut sorak-sorai penonton yang terkesima.

Ia lalu melanjutkan dengan senyum samar, “Saya belum pernah benar-benar mengenal Tiongkok sebelumnya. Namun sejak mengenalnya, saya jatuh cinta pada negeri ini dan pada rakyatnya…”

Sambil berkata demikian, ia sekilas menoleh ke arah Charlie. Semua yang peka bisa merasakan ada makna tersembunyi di balik kalimatnya.

Tawanna tak berani menyinggung lebih jauh. Ia pun segera menambahkan, “Selanjutnya, saya akan mempersembahkan lagu terakhir saya malam ini. Lagu Tiongkok yang paling saya sukai. Untuk itu, saya ingin mengundang Nona Golding bernyanyi bersama saya!”

Begitu kalimat itu meluncur, Tawanna menoleh ke belakang panggung. Senyumnya merekah. “Nona Golding, silakan naik ke panggung!”

Sorot mata semua orang terarah pada sisi panggung, menunggu. Perlahan, Quinn muncul dengan gaun putih bergaya klasik. Langkahnya mantap, penuh wibawa.

Tawanna segera menyapanya, lalu mereka berpelukan singkat di hadapan penonton. Setelah itu, Tawanna bertanya dengan penuh semangat, “Kalian tahu lagu apa yang akan kita bawakan?!”

“Assassin!” teriak penonton serempak, menggema seperti gelombang.

Kegembiraan meledak. Mayoritas dari mereka belum pernah menyaksikan langsung penampilan duet ini. Selama ini, mereka hanya bisa menikmatinya lewat rekaman video.

Kini kesempatan emas itu tiba di depan mata. Tak heran mereka begitu bersemangat.

Kedua diva itu lalu bergandengan tangan, menyanyikan Assassin bersama-sama.

Namun kali ini, penampilan mereka berbeda. Tak ada tarian provokatif seperti sebelumnya—terutama adegan terkenal saat Tawanna mencium penari pria bertopeng yang sempat mengguncang dunia.

Di konser malam ini, mereka memilih tampil lebih sederhana. Hanya dua sahabat yang bernyanyi bergandengan tangan, menghadirkan harmoni sempurna.

Setelah lagu usai, mereka menunduk dalam-dalam, masih saling menggenggam tangan. Air mata membasahi mata Quinn.

Dengan suara bergetar, ia berkata, “Dengan berakhirnya lagu malam ini, maka konser ini resmi berakhir. Begitu pula dengan perjalanan karier saya di atas panggung. Semuanya benar-benar berakhir malam ini.”

“Saya sangat berterima kasih atas cinta dan dukungan kalian selama bertahun-tahun, yang telah membawa saya sejauh ini.”

“Saya hanya berharap lagu-lagu saya bisa terus menemani hidup kalian. Saya doakan yang terbaik untuk kalian semua. Terima kasih, terima kasih banyak!”

Setelah itu, Quinn meletakkan mikrofonnya, lalu kembali membungkuk dengan penuh ketulusan.

Para penonton terhenyak. Mereka baru sadar bahwa Quinn sudah membawakan lebih dari dua puluh lagu, dengan durasi lebih dari dua setengah jam—jauh melampaui konser biasa.

Namun karena ini adalah penampilan terakhir sang idola, tak seorang pun rela beranjak. Gelombang suara pun pecah, menggema serentak: “Encore! Encore!”

Permintaan encore biasanya menjadi tradisi, bentuk terima kasih terakhir bagi para penggemar.

Namun Quinn hanya menatap mereka dengan senyum penuh kehangatan. “Setelah melepasmu hingga ribuan mil, pada akhirnya kita tetap harus berpisah. Jika kita terus menunda, justru hanya akan semakin melukai hati kita semua.”

“Saya ingin kalian mengingat saya seperti ini, mengingat perpisahan yang tegas ini. Mungkin suatu hari kita akan berjumpa kembali, tetapi bukan di atas panggung.”

“Quinn yang bernyanyi di panggung ini tidak akan pernah kalian lihat lagi! Sekali lagi, terima kasih atas segalanya. Sampai jumpa, dan selamat tinggal!”


Demikian kisah/cerita dari Novel Charlie Wade Bab 7257 – 7258 gratis online. Semoga terhibur.

The Charismatic Charlie Wade / The Amazing Son-in-Law Chapter bab Novel Charlie Wade Bab 7257 – 7258.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*