Novel Charlie Wade Bab 7253 – 7254

si karismatik novel Charlie Wade lengkap gratis online free - stefan stefancik - unsplash @

Novel Charlie Wade Bab 7253 – 7254 dalam bahasa Indonesia. Diterjemahkan dari novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Naga Tertinggi Ye Chen – Xiao Churan”. Semoga bisa menikmati kisah / ceritanya yang semakin seru.

The Amazing Son-in-Law / The Charismatic Charlie Wade (Ye Chen) Chapter Bab 7253 – 7254.


Setibanya di Eastcliff, Charlie dan Claire memilih menginap di sebuah hotel yang letaknya tak jauh dari Stadion Nasional.

Karena konser besar yang akan digelar di sana, hampir semua kamar sudah terisi penuh. Mereka bahkan harus menunggu hampir setengah jam sebelum akhirnya bisa menyelesaikan proses check-in.

Begitu mendapat kamar, Claire yang tidak betah berdiam diri mengajak Charlie berjalan-jalan di pusat kota.

Gadis itu memang mahasiswa seni dan desain, dan ia selalu terpikat pada rumah-rumah halaman di sekitar Jalan Lingkar Kedua Eastcliff. Ia ingin menikmati suasana kawasan itu bersama Charlie.

Charlie pun menyetujui ajakan itu tanpa curiga, tak menyadari bahwa alasan Claire sebenarnya hanyalah ingin mengunjungi lingkungan tempat ia pernah tinggal saat kecil.

Keduanya lalu menapaki gang-gang sempit di Jalan Lingkar Kedua. Claire tampak bersemangat; ia sibuk memotret banyak hal, juga berfoto bersama Charlie. Senyum ceria terus menghiasi wajahnya sepanjang jalan.

Saat mereka tiba di Houhai, permukaan danau masih tertutup lapisan es, meski di tepiannya sudah mulai mencair. Claire menghela napas dengan sedikit penyesalan.

“Aku selalu ingin mencoba kereta luncur es tradisional dari utara,” ucapnya lirih, “tapi tak pernah sempat. Charlie, pernahkah kamu mencobanya?”

Charlie menggeleng. “Aku juga belum pernah. Tapi kalau kamu ingin, tahun depan kita bisa datang lebih awal, jangan menunggu sampai musim semi.”

Ia tentu tak berani mengaku bahwa sebenarnya ia pernah mencoba. Di mata orang-orang, ia hanyalah seorang yatim piatu yang tumbuh di Aurous Hill dan kemudian hidup di Panti Jompo.

Bagaimana mungkin seseorang dengan latar belakang seperti itu memiliki kenangan masa kecil bermain kereta luncur di utara?

Apalagi, musim dingin di Aurous Hill hanya basah dan menusuk tulang, bukan dingin yang mengubah danau menjadi lautan es. Bahkan anjing pun sulit berdiri di atasnya, apalagi manusia.

Anak-anak yang tumbuh di sana jelas tak mungkin punya pengalaman seperti itu.

Claire sedikit kecewa, namun segera pulih. Ia menoleh dan tersenyum pada Charlie. “Besok ulang tahunmu. Bagaimana kalau kita makan siang di restoran yang bagus?”

“Tidak perlu,” jawab Charlie sembari tersenyum tipis. “Aku tidak terbiasa merayakan ulang tahun di restoran.”

“Tapi aku ingin merayakannya,” balas Claire.

Charlie pun memberi usul, “Kalau begitu, bagaimana kalau kita beli kue dan diantar ke hotel? Setelah konser nanti malam, kita bisa menikmatinya berdua di kamar.”

Claire berpikir sejenak lalu mengangguk. “Tidak masalah. Aku malah sudah memesannya di toko roti terkenal di Eastcliff. Nanti, kita rayakan saat kembali ke hotel.”

Charlie menatapnya penuh kasih, tersenyum, dan berkata lembut, “Oke. Terima kasih, sayang.”

* * *

Malam itu, setelah mandi, mereka berbaring di ranjang. Claire sengaja menunggu hingga tengah malam, agar bisa mengucapkan selamat ulang tahun langsung kepada Charlie.

Sementara itu, pikiran Charlie melayang entah ke mana. Kata-kata Quinn masih membekas kuat di kepalanya: “Kecuali kamu memberiku seorang putra!”

Bayangan itu membuatnya resah. Ia khawatir setelah konser selesai, Quinn akan kembali menekankan hal itu. Apalagi, setelah pensiun dari panggung hiburan, hidup Quinn akan benar-benar kembali normal.

Jika suatu saat ia tiba-tiba mengumumkan ingin hamil sebelum menikah lagi, bagaimana Charlie bisa menjelaskannya?

Pikirannya terus bergemuruh sampai jarum jam menunjuk tengah malam.

Claire pun mendekat, menyandarkan kepala di bahunya, lalu berbisik lembut, “Selamat ulang tahun, sayang.”

Charlie tersenyum hangat, merangkulnya pelan, dan membalas dengan suara lembut, “Terima kasih, sayang.”

Baru saja Claire hendak menambahkan sesuatu, ponsel Charlie bergetar tanpa henti. Puluhan notifikasi WeChat masuk hampir bersamaan.

Ucapan selamat ulang tahun berdatangan dari banyak orang: Quinn, Aurora, Doris, Jasmine, Rosalie, Sophie, Stephanie, Autumn, Helena, bahkan Tawanna pun tidak ketinggalan.

Yang lebih mengejutkan, Vera—wanita yang berusia lebih dari empat abad—juga mengirim pesan singkat penuh doa.

Albert, Isaac, Porter, hingga keluarga Harker pun ikut menyampaikan ucapan mereka. Steve Rothschild bahkan menuliskan ucapan selamat panjang lebar.

Rentetan pesan itu membuat Charlie merasa sedikit canggung. Ia tak berani membalas satu pun di depan Claire, dan akhirnya hanya meletakkan ponselnya.

Bab 7254

Claire menoleh heran. “Sayang, kenapa kamu tidak membalas?”

Charlie tersenyum samar. “Itu hanya ucapan dari klien. Tidak perlu semuanya kubalas. Nanti aku cukup menuliskan ucapan terima kasih singkat di WeChat.”

Claire mengangguk tipis, lalu bertanya lembut, “Sekarang kamu sudah dua puluh sembilan. Apakah ada harapan yang benar-benar kamu inginkan?”

“Harapan?” Charlie merenung sejenak sebelum tersenyum. “Aku belum pernah benar-benar memikirkannya, tapi sejujurnya… ada banyak.”

Claire tersenyum hangat. “Pikirkan satu yang paling penting. Nanti saat meniup lilin, sebutkan dalam hati. Katanya, permohonan ulang tahun lebih mudah terkabul.”

“Oke,” jawab Charlie sambil mengangguk kecil.

* * *

Keesokan harinya, tepat di tanggal dua bulan lunar kedua, Eastcliff diselimuti kabut tebal sejak pagi. Stadion Nasional yang biasanya tampak jelas dari jendela hotel, kini tertutup lapisan putih yang kabur.

Tak lama, butiran salju pun mulai turun. Aplikasi berita dan cuaca di ponsel serentak mengeluarkan peringatan: hujan salju deras mengguyur Eastcliff, bahkan berpotensi berkembang menjadi badai salju.

Padahal, dengan suhu yang mulai naik setelah bulan pertama kalender lunar dan Maret yang kian dekat, peluang turunnya salju seharusnya sangat kecil.

Namun, cuaca seakan melawan logika. Dalam sekejap, kota metropolitan itu berubah jadi dunia putih.

Claire begitu terpesona. Duduk di tepi jendela setinggi langit-langit, ia mengamati salju yang turun dengan mata berbinar.

Di luar, situasinya berbeda. Jalan-jalan macet, orang-orang berjuang menembus salju sambil membawa payung, beberapa bahkan terpeleset bersama sepedanya.

Salju terus mengguyur hingga malam tiba. Barulah reda ketika Charlie dan Claire mulai mengantre masuk ke stadion.

Kendati salju melumpuhkan lalu lintas, semangat para penggemar tak surut sedikit pun. Puluhan ribu orang menyerbu pintu masuk, memenuhi stadion hingga atmosfer memanas.

Charlie dan Claire kali ini memegang tiket istimewa—kursi di barisan depan, yang biasanya menjadi incaran dan paling sulit didapatkan. Dari sana, mereka bisa menyaksikan penampilan bintang panggung dari jarak sangat dekat.

Namun, Claire tampak gelisah. Sesekali ia memeriksa jam di ponselnya. Konser dijadwalkan mulai pukul 19.30, tinggal dua puluh menit lagi.

Ia tahu, esok pagi pukul tujuh ia harus bekerja sama dengan Stephen, sekaligus memastikan Charlie melihat berita yang sudah ia atur.

Begitu melihatnya, Charlie akan berangkat ke Australia. Itu berarti ia hanya punya waktu dua belas jam terakhir bersama pria yang ia cintai.

Menyadari kenyataan itu, Claire seakan sedang menghitung detik. Semakin ia memandang Charlie di sisinya, semakin emosinya bergejolak. Air mata tanpa sadar mengalir di pipinya.

Melihat itu, Charlie terkejut dan cemas. “Sayang, kenapa kamu menangis lagi?”

Beberapa hari terakhir, suasana hati Claire memang kerap tidak menentu. Charlie bisa merasakan ada sesuatu yang disembunyikan, tapi ia tidak mampu menebaknya.

Kini, melihat Claire kembali menangis diam-diam, hatinya terasa perih.

Ia menatapnya dalam-dalam, dan rasa sakit dalam hati Claire pun semakin menguat melihat tatapan itu. Hampir saja ia menuruti dorongan untuk memeluk Charlie dan menangis sejadi-jadinya.

Namun ia menahannya, takut dirinya benar-benar akan roboh.

Saat itu, dari samping terdengar suara tangisan seorang gadis. Pacarnya buru-buru merengkuhnya, panik, lalu bertanya, “Sayang, kenapa kamu menangis?”

Gadis itu terisak, “Aku… aku baru sadar ini konser terakhir Kak Quinn… Aku tidak sanggup membayangkan dia berhenti dari dunia hiburan di usia semuda ini…”

Tangisnya pecah, emosinya tak terkendali.

Charlie baru menyadari, bukan hanya Claire yang menangis. Banyak gadis di sekitar mereka juga meneteskan air mata sembari menatap panggung kosong.

Ia pun mengira air mata Claire juga karena alasan itu. Dengan lembut ia memeluknya, menenangkan, “Jangan bersedih, sayang.”

“Meski Nona Golding pensiun, musiknya tetap bisa kamu dengarkan secara daring. Konser-konser lamanya juga masih banyak terekam.”

“Lagipula, kalau melihat pola penyanyi Hong Kong dan Taiwan, tidak menutup kemungkinan dia akan kembali suatu hari nanti.”

Claire terdiam mendengar itu, lalu tersenyum kecut. Perlahan ia mencoba menenangkan diri, menekan gejolak yang hampir meluap…


Demikian kisah/cerita dari Novel Charlie Wade Bab 7253 – 7254 gratis online. Semoga terhibur.

The Charismatic Charlie Wade / The Amazing Son-in-Law Chapter bab Novel Charlie Wade Bab 7253 – 7254.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*