Novel Charlie Wade Bab 7233 – 7234 dalam bahasa Indonesia. Diterjemahkan dari novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Naga Tertinggi Ye Chen – Xiao Churan”. Semoga bisa menikmati kisah / ceritanya yang semakin seru.
The Amazing Son-in-Law / The Charismatic Charlie Wade (Ye Chen) Chapter Bab 7233 – 7234.
Bab 7233
Para tokoh utama oposisi diliputi amarah, namun mereka tak dapat menyangkal bahwa Hamid hanya tengah memamerkan kekuatan tempurnya sendiri.
Namun, lewat aksi nyata yang baru saja ia lakukan, Hamid telah membuktikan bahwa pasukannya benar-benar lebih unggul dibandingkan kekuatan mereka.
Tuntutan yang diajukan Hamid pun bukan sekadar bentuk pemerasan, melainkan cara halus untuk mempermalukan mereka di hadapan dunia.
Situasi ini tak ubahnya seperti kekuatan besar abad ke-19 yang menyerbu suatu negeri, lalu setelah peperangan usai, menuntut ganti rugi dalam bentuk reparasi.
Tokoh-tokoh utama oposisi tersebut sejatinya naik ke tampuk kekuasaan melalui pemberontakan. Dahulu, dengan latar belakang mereka yang sederhana dan tanpa kecakapan diplomasi, mereka kerap bersikap keras kepala hingga memilih berkorban nyawa daripada tunduk.
Namun kini segalanya telah berubah. Kekuasaan sudah berada di tangan mereka. Jika mereka terus bersikap kaku dalam setiap situasi, niscaya segalanya akan runtuh dalam waktu dua tahun.
Akhirnya, pemimpin tertinggi oposisi pun mengangkat telepon dan berkata tegas, “Hamid, hentikan permainan ini. Katakan saja berapa jumlah yang kamu inginkan.”
Hamid sempat berpikir sejenak. Kalimat itu merupakan tanda jelas bahwa pihak lawan bersedia menerima kompensasi yang memalukan ini, dan bagi Hamid, itu merupakan kemenangan lain.
Namun, ia tak bisa sembarangan dalam menyebutkan nominal. Jika terlalu tinggi, bisa-bisa lawan kembali murka. Tapi jika ia bisa mengajukan angka yang wajar dan realistis, maka ia harus berhati-hati dalam menyampaikannya.
Setelah menimbang-nimbang, ia pun mengajukan tuntutan, “Tiga saudaraku terluka. Berikan tiga juta dolar tunai, dan anggap semuanya selesai.”
Permintaan itu membuat pemimpin oposisi mengernyit. Tiga juta dolar untuk tiga orang—itu bukan jumlah kecil. Namun begitu ia mendengar bahwa itu berarti akhir dari segalanya, mendadak permintaan itu terdengar seperti tawaran terbaik.
Lagipula, tiga juta dolar tak seberapa bagi mereka. Di saat banyak penduduk Damaskus masih dililit kelaparan, mereka justru memegang kendali atas perekonomian. Bagi mereka, jumlah itu tak lebih dari setetes air di lautan.
Dengan nada tenang tapi penuh pertimbangan, ia bertanya, “Jika aku serahkan tiga juta itu, apakah segalanya benar-benar berakhir? Kamu tak akan lagi menyentuh ladang minyak, benteng, atau pasukan kami?”
Hamid tersenyum kecil. “Tentu saja,” ujarnya. “Aku berbeda darimu. Pertama, aku sangat menghargai janji.”
“Kedua, aku tak punya ambisi besar. Aku tak menginginkan wilayahmu. Yang kuinginkan hanyalah menjaga wilayahku sendiri, agar tetap aman dan tak tersentuh.”
“Jadi, selama kamu menepati kata-katamu, kita tidak akan saling ganggu.”
“Baiklah!” Pemimpin itu akhirnya mengambil keputusan. “Tiga juta berarti tiga juta. Akan kusuruh orang untuk segera menyiapkannya dan mengirimkan langsung padamu!”
Beberapa jam berselang, sebuah Humvee tua buatan Amerika melaju menerbangkan debu ke udara, meninggalkan jejak panjang menuju Pangkalan Hamid.
Begitu kendaraan itu tiba di gerbang, dua tentara turun dari bangku belakang. Masing-masing menenteng tas kanvas hijau bergaya militer, penuh berisi uang tunai.
Hamid tidak menampakkan diri. Ia hanya memerintahkan beberapa anak buah untuk mengambil alih tas-tas tersebut dari celah gunung.
Begitu uang diterima, pasukannya memeriksa setiap tas secara cermat, memastikan tak ada bom tersembunyi atau alat penyadap. Setelah yakin aman, barulah uang itu dibawa masuk ke pangkalan.
Di dalam, Hamid, mengikuti saran dari Charlie, menggelar upacara penghargaan khusus.
Kali ini, ia hendak memberikan penghormatan kepada prajurit elit yang menunjukkan dedikasi luar biasa dalam operasi merebut ladang minyak—termasuk tiga di antaranya yang terluka dalam pertempuran.
Selama ini, struktur internal pasukan Hamid sangat lemah. Manajemen kacau, jalur promosi tak jelas, dan keputusan strategis sering kali diambil hanya berdasarkan kehendak pribadi Hamid.
Namun kini, sesuai dengan saran Charlie, ia mulai membangun sistem meritokrasi dalam tubuh militer.
Mulai saat itu, mereka yang berjasa akan diberi medali. Yang menerima medali akan mendapatkan promosi. Dan yang menduduki jabatan resmi akan memperoleh kekayaan.
Bab 7234
Menurut Charlie, militer yang dijalankan semata demi uang hanya akan menghasilkan tentara bayaran—orang-orang yang bertempur demi keuntungan pribadi tanpa sedikit pun rasa pengorbanan.
Untuk menanamkan dedikasi, rasa hormat harus menjadi fondasi.
Karena itu, Hamid mulai meniru struktur militer dari negara-negara besar dan membentuk sistem penghargaan berbasis prestasi nyata.
Setiap promosi harus didasarkan pada rekam jejak militer yang jelas dan dapat diverifikasi.
Langkah ini bukan hanya memperkuat kepercayaan para perwira, tetapi juga membangkitkan semangat mereka untuk mengabdi dengan tulus.
Prajurit dan perwira yang menerima penghargaan tak hanya diberi uang tunai, melainkan juga “Medali Kemenangan” dari Hamid—didesain menyerupai penghargaan militer Iran dan dianggap sebagai simbol tertinggi dalam pasukannya.
Sementara itu, tiga prajurit yang terluka diberikan “Medali Keberanian”—tingkat penghargaan yang lebih rendah—namun masing-masing menerima bonus sebesar 50.000 dolar, kenaikan pangkat, dan peningkatan gaji bulanan.
Kebijakan ini memberi isyarat jelas bahwa keberanian sekecil apa pun tak akan luput dari perhatian. Bahkan jika peran mereka dalam pertempuran tidak dominan, asal menunjukkan keberanian, mereka tetap layak dihargai.
Dan penghargaan itu bukan sekadar kata-kata. Ada bentuk nyata yang mereka bawa pulang.
Akibatnya, para prajurit menjadi lebih termotivasi. Mereka bahkan berharap bisa berada di garis depan dalam pertempuran mendatang. Bahkan jika harus terluka, mereka tahu bahwa keberanian mereka tak akan diabaikan.
Moral pasukan pun meningkat tajam.
Segera setelah itu, Hamid menunjuk salah satu perwira yang berjasa dan mengumumkan pembentukan unit baru bernama Garda Ladang Minyak.
Unit ini terdiri atas 300 prajurit, terbagi dalam lima peleton bala bantuan—masing-masing berjumlah 50 orang—dan satu peleton pengangkut dengan jumlah yang sama.
Kelima peleton tersebut bertugas menjaga keamanan seluruh ladang minyak, termasuk yang baru saja dikuasai. Sementara peleton pengangkut bertugas mengawal pengiriman minyak secara bersenjata.
Dengan kapasitas produksi harian mencapai 5.000 barel, atau sekitar 700 ton minyak mentah, dibutuhkan puluhan kendaraan tangki ukuran sedang untuk mengangkutnya secara kontinu.
Satu peleton pengangkut khusus dibentuk untuk memastikan kelancaran distribusi minyak ke pangkalan utama di Istana Wanlong.
Namun masalah baru muncul: kilang minyak milik Istana Wanlong belum bisa dibangun dalam waktu dekat. Membangun fasilitas dengan kapasitas produksi sejuta ton per tahun butuh waktu dua tahun dan investasi ratusan juta dolar.
Sementara kilang belum tersedia, ladang terus memproduksi. Tantangannya: bagaimana menjual minyak mentah tersebut?
Hamid hanyalah panglima perang skala kecil tanpa akses ke jaringan perdagangan global.
Satu-satunya pilihan yang memungkinkan adalah menjualnya ke kilang lokal berskala kecil dengan harga rendah, atau menyelundupkannya ke pedagang-pedagang Turki.
Sayangnya, kilang lokal hanya mampu membeli dalam volume kecil dan dengan harga murah, membuat margin keuntungan mengecil.
Menyelundupkan ke Turki sedikit lebih menguntungkan, tetapi biayanya tinggi dan risikonya tak main-main.
Di Suriah, perbatasan begitu longgar akibat konflik. Namun, Turki sebagai negara berdaulat memiliki sistem bea cukai yang ketat dan tidak akan mudah menerima minyak mentah ilegal.
Untungnya, Charlie memberikan solusi ketiga: memanfaatkan ISU Shipping untuk mengangkut minyak langsung ke kantor pusat Istana Wanlong.
Kantor pusat tersebut terletak di pesisir, dilengkapi dermaga sederhana yang sedang dalam proses pengembangan. Dari sana, minyak dapat dipindahkan ke kapal tanker milik ISU Shipping untuk dibawa ke Tiongkok.
Saat kilang resmi beroperasi, pengiriman bisa dilakukan langsung dari jalur pelayaran terdekat menggunakan armada ISU Shipping.
Namun begitu, jumlah produksi saat ini masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan tahunan armada.
Maka seluruh produksi akan dikelola dan dijual oleh perusahaan itu sendiri—strategi yang perlahan mengubah Hamid dari panglima lokal menjadi pemain dalam rantai pasok energi global.
Demikian kisah/cerita dari Novel Charlie Wade Bab 7233 – 7234 gratis online. Semoga terhibur.
The Charismatic Charlie Wade / The Amazing Son-in-Law Chapter bab Novel Charlie Wade Bab 7233 – 7234.
Leave a Reply