Novel Charlie Wade Bab 7199 – 7200 dalam bahasa Indonesia. Diterjemahkan dari novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Naga Tertinggi Ye Chen – Xiao Churan”. Semoga bisa menikmati kisah / ceritanya yang semakin seru.
The Amazing Son-in-Law / The Charismatic Charlie Wade (Ye Chen) Chapter Bab 7199 – 7200.
Bab 7199
Bernard Arnault dan Presiden adalah sahabat lama.
Sekalipun suatu hari Bernard tak lagi menyandang gelar sebagai orang terkaya di dunia, posisinya sebagai sosok terkaya di Prancis dan Eropa masih tak tergoyahkan.
Pengaruhnya di benua kecil ini—yang begitu kompleks namun penuh gengsi—setara dengan siapa pun yang pernah mencetak sejarah.
Dulu, Bernard mungkin tak akan begitu peduli dengan pertemuan semacam ini. Namun hari ini, adalah hari kemenangan—hari kejayaan yang tak hanya milik dirinya, melainkan juga untuk seluruh keluarganya.
Wajahnya berseri, hatinya lapang.
Ia menyambut Presiden dengan hangat, berjabat tangan erat, lalu berkata dengan rendah hati, “Yang Mulia, saya berterima kasih atas pujian Anda. Saya hanya melakukan apa yang sudah sepatutnya saya lakukan.”
Presiden menggeleng pelan, lalu berkata penuh ketulusan, “Hari ini, seluruh rakyat Prancis merasa bangga padamu.”
“Sebagai bentuk penghargaan tertinggi, atas nama negara, saya akan menganugerahkan kepadamu Grand Croix de la Légion d’Honneur.”
Itu adalah penghargaan paling prestisius di Prancis.
Di masa damai, medali ini nyaris tak pernah diberikan, kecuali kepada mereka yang telah mempersembahkan sesuatu yang luar biasa bagi negeri—seperti atlet yang mengharumkan nama bangsa di ajang dunia.
Untuk seorang pengusaha seperti Bernard Arnault, menerima medali kehormatan tertinggi ini adalah hal yang langka, sesuatu yang bahkan belum pernah ia raih selama bertahun-tahun kariernya.
Sebenarnya, nilai medali bukanlah perkara harga material. Pemerintah dengan sengaja membatasi jumlahnya agar makna dan kehormatannya tetap terjaga.
Jika diberikan sembarangan, nilainya akan merosot, dan pesonanya pun akan luntur.
Bernard merasa hatinya terangkat. Sekembalinya ke tanah air, ia disambut oleh Perdana Menteri di bandara dan diterima langsung oleh Presiden.
Dan kini, ia akan menerima penghargaan tertinggi negara. Ini adalah pencapaian yang sungguh membanggakan.
Usai berbasa-basi ringan di depan kamera media, kedua tokoh penting itu pun melangkah memasuki ruang upacara resmi.
Upacara berlangsung khidmat, mengikuti tata cara yang telah ditentukan, disaksikan oleh para pejabat tinggi dan pengawal kehormatan Prancis, serta disiarkan langsung oleh berbagai media internasional.
Di hadapan rakyat Prancis—dan setengah populasi dunia—Bernard Arnault, dengan rambut peraknya yang elegan, menerima Grand Croix de la Légion d’Honneur yang megah itu.
Begitu Presiden mengalungkan medali ke dadanya, gemuruh tepuk tangan menggema di seluruh Istana Élysée.
Di tengah kemegahan itu, Bernard, sang maestro dunia bisnis, tiba-tiba menyadari satu hal: selama ini ia mengira dirinya tak tertarik pada ketenaran maupun kekayaan.
Namun hari ini, ia tahu bahwa sebenarnya bukan itu persoalannya.
Bukan karena ia membenci ketenaran—melainkan karena ia tak pernah benar-benar mampu meraihnya dengan tulus.
Matanya mulai berair, dan getaran emosional membuncah dalam dadanya seperti lagu kebangsaan yang membangkitkan jiwa.
Sementara itu, Charlie menyimak siaran langsung dari layar kaca—melihat bagaimana sorak-sorai rakyat Prancis membuncah memuja Bernard Arnault.
Komentar yang bertebaran di media sosial memperlihatkan kekaguman publik yang begitu mendalam terhadap sosok Bernard.
Tiba-tiba, sebuah ide melintas di benaknya: mengapa tidak memberikan kejutan tambahan?
Segera, ia meraih ponselnya dan mengirimkan pesan kepada Tawana lewat WeChat. Kebetulan, penyanyi ternama itu juga sedang berada di pulau yang sama.
Beberapa menit kemudian.
Bernard, yang masih duduk gagah di samping Presiden, baru saja menyelesaikan sesi pemotretan.
Tiba-tiba, seorang staf protokol menghampiri Presiden dan membisikkan sesuatu dengan penuh semangat.
Sinar mata sang Presiden seketika menyala. Ia menundukkan kepala sedikit dan bertanya dengan nada antusias, “Apa benar?”
“Benar, Yang Mulia. Saya sudah memverifikasi langsung dengan perusahaan Tawanna Sweet. Ini murni keputusan pribadi Nona Sweet.”
“Jika tak ada halangan, Nona Sweet akan segera mengumumkan berita ini secara resmi lewat platform media sosialnya.”
“Menakjubkan! Luar biasa!” Presiden berseru penuh semangat.
Ia segera berbalik ke arah media dan dengan lantang mengumumkan, “Kami baru saja menerima kabar gembira.”
“Sebagai ungkapan terima kasih kepada Tuan Arnault, penyanyi internasional Tawanna Sweet akan menggelar lima konser solo di Prancis usai masa liburannya. Seluruh hasil konser akan disumbangkan ke badan amal dalam negeri!”
Ruangan sontak hening. Para jurnalis terdiam sejenak, lalu saling melirik dengan ekspresi tak percaya.
Konser Tawanna Sweet bukan sekadar hiburan; itu adalah mesin penggerak ekonomi pariwisata. Di mana pun ia tampil, sektor pariwisata lokal seketika melonjak.
Dan kali ini, konsernya bukan untuk komersial, melainkan untuk amal. Setiap sen akan masuk ke lembaga sosial di Prancis.
Charlie Wade Bab 7200
Diperkirakan, lima konser tersebut akan menghasilkan setidaknya €100 juta!
Tak hanya nilai ekonominya yang luar biasa, pengaruh global Prancis pun akan melonjak—berkat aksi amal dari artis kelas dunia seperti Tawanna.
Tak pernah sebelumnya ada konser amal semegah ini bahkan di negeri asalnya sendiri, Amerika.
Wajah para wartawan berubah kagum. Kamera mereka segera menyorot sosok Bernard yang kini menjadi pusat perhatian dunia.
Semua orang tahu bahwa Tawanna Sweet melakukan ini sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada Bernard, pria yang telah menyelamatkan nyawanya.
Bernard sendiri terkejut.
“Ini tidak masuk akal,” pikirnya. “Charlie-lah yang menyelamatkan Tawanna, bukan aku. Dia pasti tahu itu.”
Namun begitu memikirkan Charlie, semuanya menjadi jelas.
“Tentu saja ini perintah dari Charlie…”
Air matanya kembali menggenang.
Charlie tak hanya menyelamatkan nyawa seseorang, tetapi juga mengangkat dirinya—yang dulu hanya seorang pengusaha—menjadi pahlawan nasional, bahkan internasional.
“Apakah ini masih orang yang sama… pria yang dulu memaksaku membayar ratusan juta euro demi segel kekaisaran palsu dan lukisan Mona Lisa palsu?”
“Dulu aku menganggapnya bajingan terlicik di dunia. Tapi sekarang… mengapa aku justru merasa dia manusia paling luar biasa yang pernah kutemui?”
“Dia menyelesaikan segalanya diam-diam, lalu pergi tanpa jejak… tanpa meninggalkan nama. Bukankah itu yang ia katakan dulu?”
Di kejauhan, beberapa fotografer berhasil menangkap air mata yang jatuh di pipi Bernard. Lensa mereka menangkap dua garis bening yang jatuh tanpa suara.
Mereka tak tahu cerita sebenarnya, dan dengan mudah membentuk narasi yang menyentuh hati: Bernard Arnault, sang miliarder dermawan, menyelamatkan turis termasuk Tawanna Sweet, dan sebagai balasannya, sang diva menggelar konser amal di Prancis.
Cerita tentang cinta kasih dan solidaritas antarmanusia langsung menyebar cepat.
Wajah Bernard membanjiri siaran langsung.
Dalam sekejap, para penggemar di seluruh Prancis dan Eropa bersorak. Mereka yang mencintai Tawanna, kini ikut jatuh cinta pada pria tua berambut perak itu.
Popularitas Bernard meledak—tak hanya di Prancis, melainkan di seluruh dunia.
Ia bukan lagi sekadar taipan. Kini, ia adalah lambang harapan, cinta, dan kemanusiaan.
* * *
Setelah keluar dari Istana Élysée, berbagai media besar segera mempublikasikan laporan mereka secara daring.
Istri Bernard menyambutnya dengan wajah berseri.
“Aku sudah membaca semuanya!” katanya dengan semangat. “Setiap artikel memuji kamu tanpa henti. Tulisannya elegan, penuh kekaguman. Mereka benar-benar menyanjungmu.”
“Benarkah?” tanya Bernard, jantungnya berdegup lebih kencang. “Bagaimana dengan komentar di internet? Apa kata publik?”
“Nyaris semuanya positif! Banyak yang mengatakan, andai semua orang kaya sepertimu—bertanggung jawab dan penuh rasa kemanusiaan—mereka tak akan membenci kaum kaya.”
“Bahkan komentar-komentar itu mendapat banyak dukungan dan likes. Banyak dari mereka yang dulu skeptis pada orang kaya kini berubah pandangan.”
Bernard menghela napas panjang. “Tuhan… kalau begini terus, mungkin aku bisa masuk dunia politik suatu hari nanti?”
Istrinya tertawa pelan. “Umurmu sudah berapa? Masih ingin jadi politisi? Lagipula, bukankah dulu kamu tidak tertarik dengan politik?”
Bernard melambaikan tangan, kali ini wajahnya serius. “Dulu memang tidak. Tapi sekarang… aku merasa sesuatu yang tak bisa diberikan uang. Ada perasaan yang bangkit—sesuatu yang baru.”
Istrinya meremas tangannya dan berkata lembut, “Bernard, kita sudah tidak muda lagi. Bukankah lebih baik menikmati sisa waktu kita bersama?”
Ia tertawa kecil, lalu mengangguk. “Kamu benar. Tapi tenang saja, aku hanya ingin mengurangi fokus pada uang dan mulai melakukan hal-hal yang benar-benar kuinginkan.”
“Untuk hidupku, tak akan berubah banyak. Aku masih akan bekerja… karena setelah seumur hidup penuh kerja keras, kita tidak bisa benar-benar diam begitu saja.”
Sang istri mengangguk penuh pengertian. “Yang penting, jaga kesehatanmu. Itu yang utama.”
Yang tak ia tahu, Bernard sedang menyimpan rahasia besar dalam hatinya.
“Ya… kita memang sudah tua,” batinnya. “Tapi kamu tak tahu aku sudah minum Pil Peremajaan. Aku hanya butuh 50 miliar poin lagi untuk mendapatkan pil selanjutnya…”
Kini ia telah memiliki segalanya—harta, kejayaan, dan umur panjang.
Kerajaan bisnisnya terus mencetak emas. Tapi yang lebih penting, kini ia berdiri di atas panggung dunia, berkat satu nama: Charlie Wade.
“Charlie sudah menanamkan fondasi untukku. Ia mengangkatku ke puncak, sesuatu yang tak bisa kubeli meski dengan seluruh kekayaanku.”
“Kalau aku tidak mengambil kesempatan ini, aku akan mengecewakan diriku sendiri… dan mengecewakannya!”
“Lagipula, aku masih punya tiga—atau bahkan empat—dekade ke depan untuk hidup…”
Demikian kisah/cerita dari Novel Charlie Wade Bab 7199 – 7200 gratis online. Semoga terhibur.
The Charismatic Charlie Wade / The Amazing Son-in-Law Chapter bab Novel Charlie Wade Bab 7199 – 7200.
Leave a Reply