Novel Charlie Wade Bab 7185 – 7186

si karismatik novel Charlie Wade lengkap gratis online free - stefan stefancik - unsplash @

Novel Charlie Wade Bab 7185 – 7186 dalam bahasa Indonesia. Diterjemahkan dari novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Naga Tertinggi Ye Chen – Xiao Churan”. Semoga bisa menikmati kisah / ceritanya yang semakin seru.

The Amazing Son-in-Law / The Charismatic Charlie Wade (Ye Chen) Chapter Bab 7185 – 7186.


Kala itu, Bernard tampak sangat antusias.

Untuk pertama kalinya dalam tujuh dekade hidupnya, ia merasakan kejenuhan yang mendalam terhadap uang.

Kini, yang paling dinantikannya justru adalah bagaimana Charlie akan menghabiskan 50 miliar dolar AS dengan semaunya. Sebuah momen yang membuat darahnya berdesir karena penasaran.

Apa yang akan jadi sorotan utama kali ini?

Jangan berbasa-basi—ambil saja uangku!

Baginya, Charlie sungguh keterlaluan. Pria itu bisa menghamburkan puluhan miliar dolar sesuka hati, sementara dirinya hanya bisa menanti, mendengarkan perintah, dan menunggu instruksi selanjutnya.

Hal semacam ini sangat menguji kesabaran.

Namun ia merenungi. besar kerugian yang diderita akibat konfrontasi tajam dengan Amerika Serikat akan dianggap sebagai poin untuk dirinya.

Ia justru merasa Charlie sedang memberikan pengalaman berharga untuknya.

Dalam waktu singkat, pikirannya berputar cepat, merancang berbagai skenario untuk perjalanan ke Negeri Paman Sam demi mengukir “pengalaman”.

Bukankah Charlie sudah menegaskannya? Asalkan kerugian yang timbul karena sanksi dari Amerika dimasukkan dalam kategori pengalaman, maka itu dianggap sah.

Sungguh mudah. Mencari uang sambil merunduk kini kian sulit, apalagi sambil berdiri tegak. Tapi jika yang diminta adalah merugi dalam posisi berdiri, bahkan seekor anjing pun bisa, selama diberi semangkuk makanan.

Dengan penuh semangat, ia menepuk dadanya dan berkata kepada Charlie, “Tuan Wade, tunggu saja kabar dari saya beberapa hari ke depan. Saya akan menciptakan kegemparan besar di Amerika!”

Charlie mengangguk, lalu menghembuskan napas kecil sebelum tertawa, “Saya yakin pada Anda. Lanjutkan dan lakukan yang terbaik.”

Di sisi lain, Hamid yang menyaksikan dari jauh, terdiam. Dalam hati, ia begitu kagum. Harvey sangat luar biasa. Hanya dengan satu pil, ia mampu membuat Bernard tunduk.

Jika kemampuannya dilipatgandakan, tak menutup kemungkinan ia bisa menjadi panglima tertinggi di Suriah.

Keyakinan Hamid terhadap Charlie kian tak tergoyahkan. Ia merasa amat beruntung. Hanya karena menculik beberapa mahasiswa top asal Amerika, ia berhasil menarik perhatian sosok seperti Charlie—tokoh yang tak ubahnya dewa dalam kehidupannya.

Tak hanya memulihkan kakinya yang pincang, Charlie juga membantunya bertahan melawan gempuran pasukan pemerintah dan Istana Wanlong. Ia bahkan terus memperkuat posisinya di medan perang.

Setiap kali ia terjatuh, Charlie hadir sebagai penyelamat. Berulang kali dalam hidupnya, nyawanya terselamatkan oleh pria itu.

Sayangnya, dirinya ini lelaki berjanggut. Andai saja dirinya seorang wanita cantik dan menggoda, dia pasti sudah memberinya delapan anak sebelum membicarakan hal lain.

Bernard yang sedang dalam suasana hati baik pun berkata, “Tuan Wade, bisakah Anda dan Keluarga Anda bergabung dalam makan malam Tahun Baru sore ini?”

Charlie memahami. Bernard telah menyiapkan makan malam khusus bagi para tamu asal Tiongkok, lengkap dengan siaran Gala Festival Musim Semi.

Ia pun mengangguk, merasa senang turut merayakan.

Namun, bayangan tentang insiden semalam yang menggemparkan dunia masih terlintas di benaknya.

Resort kecil Cheval Blanc Randheli kini menjadi sorotan global, dan lebih dari seratus ribu orang menyaksikan siaran langsung para wisatawan di pulau itu.

Jika ada yang menyiarkan makan malam malam ini, bukankah identitasnya akan tersingkap ke publik?

Karena itu, ia segera berkata pada Bernard, “Tolong buatkan pengumuman bahwa demi alasan keamanan, mulai saat ini hingga seluruh tamu meninggalkan Cheval Blanc Randheli, tidak ada satu pun yang diizinkan menggunakan ponsel di area umum.”

“Jika mereka mematuhi aturan ini hingga pergi, mereka akan menerima kompensasi sebesar 100.000 dolar AS. Namun, jika melanggar, hak kompensasi akan dicabut.”

“Dan untuk semua tamu yang hadir dalam makan malam Tahun Baru malam ini, tidak seorang pun diperkenankan membawa ponsel.”

Bernard memahami keinginan Charlie untuk tetap low profile. Ia pun segera mengangguk dan berkata, “Baik, Tuan Wade. Serahkan semuanya kepada saya!”

Setelah perbincangan selesai dan mereka berpamitan, Bernard segera kembali ke vila. Ia langsung menghubungi penanggung jawab regional di Amerika Serikat, menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan.

Ia lalu meminta asistennya untuk mengontak Kantor Antiterorisme PBB guna menyampaikan keputusan donasi.

Nama “Perserikatan Bangsa-Bangsa” memang terdengar megah. Namun, sejatinya, keberadaannya tak jauh berbeda dari keluarga kerajaan dalam sistem monarki konstitusional—terhormat dalam nama, tapi kekuasaan sejati tetap di tangan parlemen.

Di permukaan, jika ada krisis global, PBB akan dikerahkan untuk menangani situasi. Namun faktanya, negara-negara besar seperti Amerika nyaris tak menaruh hormat.

Sebaliknya, banyak anggota PBB justru memperlakukannya seperti keluarga miskin yang datang membawa oleh-oleh, padahal mereka sebenarnya tengah berusaha meminta bantuan untuk membangun vila atau bahkan menikahi dua istri.

Mendengar kabar bahwa mantan orang terkaya di dunia akan memberikan donasi, staf PBB pun kegirangan, dan segera bersiap menyambut Bernard Arnault.

Ia pun memutuskan kembali ke Prancis besok untuk bertemu presiden, menghadiri beberapa wawancara media keesokan siangnya, menyatakan sikap secara terbuka, lalu segera terbang ke Amerika Serikat demi memperkaya pengalamannya.

Bab 7186

Sore itu, Bernard menepati janjinya.

Seluruh tamu yang hadir, baik dewasa maupun anak-anak, menerima masing-masing 100.000 dolar AS sebagai kompensasi.

Charlie dan Claire memberikan hak mereka kepada Jacob dan Elaine. Alhasil, pasangan itu menerima total 200.000 dolar AS.

Hari itu adalah Malam Tahun Baru—festival terbesar bagi masyarakat Tiongkok. Jacob dan Elaine yang mendapat rezeki nomplok pun sangat senang, hingga mereka memutuskan merayakannya dengan makan malam di restoran lebih awal, sekitar pukul empat sore.

Mereka sekeluarga keluar dari kamar dan menuju kawasan komersial Cheval Blanc Randheli. Di sepanjang jalan, lampu-lampu dan ornamen meriah tergantung indah. Nuansa Tahun Baru Imlek terasa begitu kental di udara.

Namun, satu hal yang tak disangka adalah—di luar restoran tempat jamuan malam diadakan, ada penampilan barongsai profesional yang sangat memikat.

Charlie dibuat penasaran. Di tempat terpencil seperti ini, semua barang diimpor dari luar pulau. Dari mana Bernard mendapatkan begitu banyak perlengkapan Imlek?

Saat sedang berpikir, matanya tertumbuk pada sosok lelaki tua mengenakan jas Tang merah yang berdiri di pintu restoran. Ia menyambut tamu satu per satu, dan membagikan angpao merah dengan kedua tangannya.

Charlie menajamkan pandangan. Ternyata itu Bernard Arnault.

Ia tidak menyangka pria tua itu begitu total, mengenakan setelan merah mencolok dan tampak seperti maskot perayaan.

Elaine mengenalinya sekilas dan berseru, “Itu bos konglomerat merek-merek mewah! Wah, dia bagi-bagi angpao! Ayo kita lihat berapa banyak yang dia kasih!”

Tanpa menunggu, Elaine melangkah lebih dulu.

Bernard juga melihat Charlie. Untuk menghindari kecurigaan, ia hanya menyapa dengan tatapan mata dan menyerahkan angpao kepada Elaine sambil tersenyum ramah, “Nyonya Elaine, selamat Tahun Baru! Semoga rezeki Anda melimpah.”

Elaine menerima angpao itu, namun kecewa saat merasakan ketebalannya. Ia mengomel dalam hati,

“Paling cuma dua lembar. Kalau pun seratusan, hanya dua ratus dolar. Pelit amat, harusnya kasih seribu dolar, dong!”

Karena isinya tak terasa menggembirakan, ia malas membuka dan langsung memasukkannya ke saku, lalu berkata dengan senyum tipis, “Oh, selamat Tahun Baru juga, Tuan Arnault. Semoga bisnis Anda lancar dan tubuh Anda selalu sehat.”

Bernard tertawa, “Terima kasih atas doanya, Nyonya Elaine. Saya terima ucapan baik Anda dengan senang hati.”

Elaine lalu berbisik, “Di Tiongkok, kalau seseorang mendoakan dengan tulus, Anda juga harus memberi angpao yang lebih besar. Itu disebut saling membalas. Paham, kan?”

Bernard sempat bingung, namun cepat menangkap maksudnya. Ia tertawa kecil, “Terima kasih atas pengingatnya, Nyonya Elaine. Saya jadi belajar satu budaya baru hari ini!”

Seketika, ia mengeluarkan satu angpao lagi dan menyerahkannya kepada Elaine, “Nyonya Elaine, semoga Anda sehat dan sukses di tahun baru ini!”

Elaine tersenyum puas dan menjawab, “Tuan Arnault, Anda kan pebisnis besar. Saya tak akan pamer kemampuan di depan Anda.”

Bernard sempat berpikir, “Oh, jadi ungkapan ‘Banmen Nongfu’ bisa dipakai begitu juga ya?”

Saat itu, Charlie, Claire, dan Jacob turut mendekat.

Bernard membagikan tiga angpao lainnya, menyampaikan ucapan Tahun Baru kepada masing-masing.

Jacob menerimanya dengan senyum dan membungkuk sebagai tanda terima kasih. Namun, Claire menolak secara halus, “Terima kasih atas restunya, Tuan Arnault. Selamat Tahun Baru juga. Tapi Anda tak perlu repot-repot memberi uang.”

Elaine segera menimpali, “Aduh Claire, itu cuma simbol keberuntungan. Bagi Tuan Arnault, ini bukan masalah besar. Kalau kamu malu, biar Ibu yang simpan.”

Tanpa menunggu, ia pun mengambil amplop itu dari tangan Bernard.

Claire sedikit jengkel, “Ibu, tolong berhenti terlalu terobsesi dengan uang…”

Bernard buru-buru menenangkan, “Nyonya Wade, jangan terlalu serius. Isi amplop itu tak banyak—hanya seribu euro. Ini semata-mata lambang keberuntungan.”

Elaine pun matanya berbinar. “Hah, setipis ini isinya seribu euro? Mata uang euro lebih mahal dari dolar AS! Orang tua ini royal juga, ya!”

Lalu Bernard menatap Charlie dan menyerahkan satu amplop, “Tuan Wade, selamat Tahun Baru!”

Charlie mengangguk dan tersenyum. Ia menyerahkan angpao itu kepada Elaine sambil berkata, “Bu, simpan saja ini sebagai kenang-kenangan.”

Elaine pun menyeringai, matanya menyipit senang. “Kalau menantu baik bilang begitu, tentu saja Ibu simpan.”

Charlie kemudian bertanya, “Tuan Arnault, dari mana Anda mendapatkan semua perlengkapan Imlek dan tim barongsai ini?”

Bernard menjelaskan sambil tersenyum, “Sumber daya di Maladewa terbatas, dan sedikit sekali warga Tionghoa di sini. Jadi saya khusus memesan semuanya dari Dubai dan menerbangkannya pagi ini.”

“Tim barongsai juga dari Dubai. Tujuannya agar para tamu dari Tiongkok merasa seperti di rumah sendiri.”

Ia lalu menambahkan, “Oh ya, Tuan Wade, saya juga mengundang sejumlah koki profesional asal Tiongkok dari Dubai. Mereka akan menyiapkan makan malam Tahun Baru. Semoga Anda dan Keluarga Ackerda menyukainya.”

Charlie mengangguk, tersenyum hangat. “Tuan Arnault sangat perhatian.”

Bernard tampak senang. Kemudian ia membisikkan sesuatu, “Tuan Wade, demi menyenangkan Anda dan keluarga, saya telah menyiapkan undian. Hadiah utamanya: 100 juta dolar AS.”

“Kalau Anda setuju, saya bisa mengatur agar keluarga Anda yang menang.”

Namun, Charlie langsung menatapnya dengan tajam dan bersuara pelan namun tegas, “Kalau kamu terus punya ide licik seperti itu, saya akan menaikkan harga pengalaman untuk Pil Peremajaan jadi 500 miliar!”


Demikian kisah/cerita dari Novel Charlie Wade Bab 7185 – 7186 gratis online. Semoga terhibur.

The Charismatic Charlie Wade / The Amazing Son-in-Law Chapter bab Novel Charlie Wade Bab 7185 – 7186.

1 Comment

  1. 20.55
    Senin 21 juli 2025.
    Saya cukup terhibur. Puas dengan update bab yang banyak.
    Semoga penulis tetap semangat.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*