Novel Charlie Wade Bab 7173 – 7174

si karismatik novel Charlie Wade lengkap gratis online free - stefan stefancik - unsplash @

Novel Charlie Wade Bab 7173 – 7174 dalam bahasa Indonesia. Diterjemahkan dari novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Naga Tertinggi Ye Chen – Xiao Churan”. Semoga bisa menikmati kisah / ceritanya yang semakin seru.

The Amazing Son-in-Law / The Charismatic Charlie Wade (Ye Chen) Chapter Bab 7173 – 7174.


Jawaban Kellan menggema bak gelegar petir yang membelah langit. Semua orang Tionghoa dan para warga asing yang memahami bahasa Mandarin langsung bersorak, riuh dan penuh haru.

Sementara itu, mereka yang tak mengerti hanya terpaku dalam kebingungan.

Namun, orang-orang di sekitar segera memberi penjelasan, menularkan kabar gembira itu kepada siapa pun yang belum memahami.

Tak butuh waktu lama sebelum euforia merambat ke seluruh penjuru keramaian.

Kabar bahagia itu menyebar cepat, dan seolah badai telah berlalu, semua orang merasa seperti baru saja selamat dari bencana besar.

Tangis haru meledak di mana-mana, mereka berpelukan dengan orang-orang yang mereka cintai, seakan tak ingin melepaskan.

Elaine dan Jacob pun larut dalam tangis yang tak terbendung. Keduanya saling mendekap, menggenggam harapan baru dalam tangis yang pecah berkeping-keping.

Di saat bersamaan, dunia maya pun porak-poranda. Tawana, tanpa belas kasihan, menyiarkan langsung seluruh kejadian tersebut. Tayangan itu disaksikan oleh ratusan juta orang di berbagai belahan dunia.

Amarah pun menggelegak di tubuh para petinggi Maladewa. Tanpa pikir panjang, mereka langsung memerintahkan pengerahan lebih dari separuh kekuatan militer nasional ke Cheval Blanc Randheli.

Perlu diketahui, total kekuatan militer Maladewa tak sampai 3.000 personel. Bila tak menghitung para perwira dan petugas logistik, kemungkinan besar, pasukan tempur aktifnya bahkan tak mencapai 2.000 orang.

Angkatan laut Maladewa memiliki armada terbatas dengan berat maksimum sekitar 100 ton, kebanyakan hanyalah peralatan sisa dari negara-negara tetangga.

Sementara angkatan udaranya pun hanya memiliki dua hingga tiga helikopter bantuan asing, dengan kemampuan mobilitas yang sangat terbatas.

Maka, satuan marinir yang terdiri dari beberapa lusin orang segera diterjunkan untuk menguasai situasi di Cheval Blanc Randheli.

Para pemimpin negeri itu juga segera menghubungi Bernard secara pribadi, menanyakan langsung kondisi terkini dengan nada penuh kekhawatiran.

Begitu Bernard memastikan bahwa keadaan sudah terkendali, mereka pun memberitahunya bahwa pasukan militer tengah meluncur ke lokasi.

Tak lama setelah itu, Kellan memainkan peran teatrikalnya di hadapan publik. Dengan senapan mesin ringan di tangan, ia menoleh ke arah Bernard dan berkata dengan nada santai,

“Tuan Arnault, kami telah menerima mata uang kripto Anda. Terima kasih atas kemurahan hati Anda, kami akan pergi terlebih dahulu!”

Ia bahkan sempat mengedipkan mata kepada beberapa orang yang selamat. Tanpa dikomando lagi, mereka pun segera mengikutinya, berjalan keluar dengan langkah penuh waspada, senjata di tangan.

Kellan menyapu pandangannya ke sekeliling dan berkata lantang kepada para turis yang masih berada di dalam bar, “Jika militer Maladewa bergerak cepat, mereka mungkin bisa tiba dalam waktu 40 menit.”

“Aku tidak tahu apakah orang-orangku di luar masih hidup. Saranku, lebih baik kalian tetap di tempat, jangan gegabah, tunggu sampai militer datang.”

Tanpa menunggu tanggapan dari siapa pun, ia pun berbalik dan meninggalkan bar bersama pasukannya.

Sebagai komandan tertinggi dari Perusahaan Blackwater yang terlibat langsung dalam aksi teror ini, kehadirannya di tanah Maladewa jelas merupakan pelanggaran hukum berat.

Bila ia memilih untuk tetap tinggal, maka bisa dipastikan, militer akan langsung menangkapnya begitu mereka tiba.

Karena itulah, Charlie telah merancang rencana pelarian bagi mereka: setelah Kellan secara terbuka berkhianat pada Blackwater, ia harus segera membawa pasukannya kabur menggunakan speedboat yang sebelumnya mereka pakai datang.

Charlie bahkan telah menyiapkan kapal dagang yang dikawal oleh armada Istana Wanlong, untuk menjemput mereka di laut lepas.

Dengan kemampuan angkatan laut Maladewa yang sangat terbatas, mustahil mereka bisa mengejar speedboat Kellan yang sudah lebih dulu menghilang di balik cakrawala.

Charlie tak khawatir Kellan akan mencoba berkhianat. Setelah reputasi Blackwater hancur, dan tanpa sokongan kekuatan besar, tidak ada tempat di dunia ini yang bisa ia jadikan tempat bernaung.

Satu-satunya pintu yang terbuka baginya adalah Hamid di Suriah.

Andai ia nekat melarikan diri, maka bukan hanya Blackwater yang ia singgung, tetapi juga Charlie sendiri. Itu akan menjadi awal dari akhir baginya.

Kellan sangat menyadari kenyataan itu. Maka dengan patuh, ia membawa orang-orangnya kembali ke dermaga.

Setelah menghancurkan speedboat cadangan, mereka menaiki boat terakhir dan berlayar menjauh dari Cheval Blanc Randheli.

Sementara itu, para pengunjung yang masih berada di bar memilih tetap bertahan di tempat.

Mereka tidak tahu situasi di luar, dan perkataan Kellan bahwa mungkin masih ada teroris yang berkeliaran cukup membuat mereka ciut.

Tak satu pun berani mengambil risiko. Mereka tahu, satu langkah keliru saja bisa menjadi akhir hidup mereka.

Tawana, di sisi lain, tetap melanjutkan siaran langsungnya. Ia terus mengecam tindakan Blackwater, dan dunia menyaksikan semuanya.

Nama Blackwater tercoreng total. Kecaman meluas, bahkan sejumlah netizen mendesak pemerintah Amerika Serikat untuk segera menetapkannya sebagai organisasi teroris.

Petisi online pun bermunculan, termasuk di situs resmi Gedung Putih.

Bab 7174

Tiga puluh menit berselang, suara helikopter kian mendekat. Pasukan marinir Maladewa akhirnya tiba.

Begitu mendengar deru baling-baling di angkasa, Tawana langsung mendekat ke jendela, merekam momen penting itu melalui ponselnya.

Para perwira tinggi militer yang memantau dari ibu kota Male ikut menyaksikan siaran langsung tersebut.

Melihat helikopter militer terekam kamera, mereka segera memerintahkan, “Tawana Sweet sedang menyiarkan langsung. Turunkan pasukan dengan tali!”

Niat awal mereka tentu untuk unjuk kekuatan. Lagipula, para pasukan elite sering melakukan rappelling saat misi darurat, dan aksi semacam itu terlihat gagah dan heroik.

Mereka ingin mengembalikan citra militer yang tercoreng akibat insiden memalukan ini. Namun, komandan lapangan menjawab dengan ragu,

“Tuan, pasukan kita belum berlatih rappelling secara memadai. Sebaiknya kita tidak ambil risiko. Izinkan helikopter mendarat di tempat yang aman.”

Pejabat tinggi yang mendengar itu langsung naik pitam, “Ini misi genting! Netizen dunia menyaksikan! Kita harus memberi kesan kuat!”

Sang komandan hanya bisa menghela napas dan menjelaskan, “Beberapa tahun lalu, pasukan India juga melakukan rappelling saat siaran langsung.”

“Akibatnya, seorang prajurit jatuh dan mencederai dua rekannya. Dunia mencibir mereka tanpa ampun.”

“Pasukan kita bahkan tidak mendapat pelatihan harian seperti mereka. Jika kita gagal tampil gagah, yang ada hanya cemoohan dari seluruh dunia!”

Petinggi itu semakin geram, “Saya minta kalian jaga wibawa negara, tapi kalian malah abaikan pelatihan dasar!”

Komandan itu mengangkat bahu dengan putus asa. “Saya sudah lama mengajukan anggaran pembelian helikopter baru dan dana pelatihan tambahan, tapi tidak pernah disetujui! Bahkan perawatan dasar saja tak mampu kami lakukan.”

Setelah jeda yang hening dan penuh kekecewaan, salah satu pejabat berkata lesu, “Baiklah, jangan pakai tali. Cari tempat pendaratan yang aman saja.”

Para penonton, baik yang berada di dalam bar maupun yang menyaksikan siaran langsung, menanti momen heroik itu.

Namun, mereka hanya bisa menyaksikan helikopter melayang lama di udara, lalu perlahan mendarat di area terbuka yang aman.

Reaksi pun bermunculan. Rasa kecewa meluap dari para netizen, dan hal yang lebih mengejutkan terjadi.

Saat melihat mayat-mayat tergeletak bersimbah darah, beberapa prajurit langsung menahan perut, bahkan ada yang memegangi lutut dan muntah.

Beruntung, kamera Tawana hanya menangkap bayangan samar tubuh-tubuh itu. Jika tidak, platform video siarannya mungkin harus menurunkan siaran demi alasan etika.

Sang komandan yang berusaha menahan mual pun memimpin anak buahnya masuk ke dalam bar. Begitu memasuki ruangan, ia langsung berteriak, “Semua teroris angkat tangan dan menyerah, atau kami akan tembak tanpa ampun!”

Bernard melangkah ke depan dengan nada sinis, “Teroris yang masih hidup sudah pergi. Aku ragu kalian bisa mengejar mereka.”

“Apa?! Sudah pergi?!” Sang komandan terperangah. “Kenapa kalian membiarkan mereka lolos?!”

Bernard menunjuk ke dirinya sendiri, ekspresi geram di wajahnya. “Kalian menanyakan itu padaku?”

“Kalau aku punya kemampuan untuk menangkap mereka, untuk apa kalian datang ke sini? Mungkin aku bisa bentuk milisi sendiri sekalian!”

Komandan hanya bisa terdiam malu. Ia mengusap hidungnya dan berusaha mengalihkan topik, “Bagaimana kondisi para tamu? Ada yang terluka?”

Bernard menghela napas panjang, “Tidak. Tapi aku benar-benar tak habis pikir, bagaimana bisa kalian lengah hingga begitu banyak militan menyusup ke pulau ini?!”

Ia lalu menambahkan dengan nada penuh kebanggaan, “Kalau bukan karena aku menyogok mereka dengan uang dalam jumlah besar di saat kritis, aku, Nona Sweet, dan para tamu di Cheval Blanc Randheli ini mungkin sudah menjadi mayat dingin sekarang!”

Memang benar, Bernard tak benar-benar memberikan Kellan seratus juta dolar, namun ia menyerahkan Cheval Blanc Randheli kepada Charlie, dan membeli Pulau JD dari Konsorsium Dubai untuk diberikan juga. Total pengeluaran dan kerugian melampaui satu miliar dolar AS.

Tapi Charlie memberinya panggung untuk menjadi pahlawan. Dan Bernard tahu, gelar itu lebih berharga dari uang.

Ia segera berdiri di depan kamera siaran langsung Tawana, lalu menyatakan dengan lantang, “Mereka semua adalah tamu terhormat.”

“Demi keselamatan mereka, saya rela mengorbankan berapa pun dana yang dibutuhkan. Namun, penyesalan terbesar saya adalah kehilangan para pengawal kami yang tewas dalam tugas ini!”

Ia lalu menunjuk ke komandan dan berkata tegas, “Keselamatan para wisatawan adalah tanggung jawab kalian. Jangan sampai tragedi ini terulang!”

Komandan itu mengangguk cepat, “Tuan Arnault, kami berterima kasih. Saya akan mengajukan peningkatan dana pertahanan segera.”

Bernard pun berkata, “Bagaimana kalau begini? Setelah semuanya usai, saya akan menyumbangkan 50 juta dolar untuk departemen pertahanan Anda.”

“Gunakanlah untuk memperkuat kemampuan pertahanan maritim. Saya ingin memastikan bahwa bencana seperti ini tidak pernah terjadi lagi.”


Demikian kisah/cerita dari Novel Charlie Wade Bab 7173 – 7174 gratis online. Semoga terhibur.

The Charismatic Charlie Wade / The Amazing Son-in-Law Chapter bab Novel Charlie Wade Bab 7173 – 7174.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*