Novel Charlie Wade Bab 7159 – 7160

si karismatik novel Charlie Wade lengkap gratis online free - stefan stefancik - unsplash @

Novel Charlie Wade Bab 7159 – 7160 dalam bahasa Indonesia. Diterjemahkan dari novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Naga Tertinggi Ye Chen – Xiao Churan”. Semoga bisa menikmati kisah / ceritanya yang semakin seru.

The Amazing Son-in-Law / The Charismatic Charlie Wade (Ye Chen) Chapter Bab 7159 – 7160.


Di dalam bar yang semakin mencekam, pemimpin kelompok pria berbaju hitam tak ingin hanya duduk diam menunggu sinyal komunikasi kembali aktif.

Pandangan matanya beberapa kali jatuh pada sosok Tawana—wanita tinggi semampai dengan tubuh proporsional bak lukisan hidup—yang langsung memicu hasrat gelap dalam pikirannya.

Awalnya, malam ini dirancang untuk menjadi panggung tragedi berdarah, sebuah aksi teror yang akan mengguncang dunia. Maka, ia pun merasa tak perlu lagi mengekang sisi buas dalam dirinya.

Dengan senyum yang dipaksakan ramah, ia mendekati Tawana dan berkata, “Nona Sweet, sungguh di luar dugaan bisa bertemu Anda di sini. Anda adalah idola dan dewi dalam hidup saya. Saya sudah mengagumi Anda sejak lama.”

Tawana bergidik cemas. Dengan suara gemetar ia berujar, “Kalau begitu… bisakah kamu melepaskanku? Aku ke sini hanya untuk berlibur… Aku tak ingin mati di tempat ini…”

Tatapan pria itu menjadi dingin dan sinis. Ia menyunggingkan senyum tipis yang membuat darah siapa pun membeku,

“Nona Sweet, sejujurnya, kami sedang melancarkan serangan teroris. Bagiku, semakin besar kekacauan, semakin memuaskan.”

“Kamu, seorang bintang besar, kebetulan berada di sini. Bagaimana mungkin aku menyia-nyiakan kesempatan emas seperti ini?”

Tubuh Tawana bergetar hebat, dadanya naik turun menahan tangis. Dengan suara tercekat, ia memohon, “Jika kamu menginginkan uang, aku bersedia memberikan semua uangku. Tolong… jangan sakiti aku…”

Tawa pria itu menggema, penuh nafsu dan kehinaan. “Kudengar kamu sangat terbuka dalam hal perasaan,” ujarnya cabul.

“Aku penasaran, bersediakah kamu ikut denganku menyiarkan pertunjukan dewasa kepada seluruh dunia setelah sinyal kembali menyala?”

Tangis Tawana pecah tak terbendung. Ia menggeleng-gelengkan kepala dengan putus asa, air matanya jatuh seperti hujan di musim tengkujuh.

“Kumohon… jangan lakukan itu padaku! Aku tak ingin orang yang kucintai melihatku dalam keadaan sehina itu… bahkan jika aku mati!”

Ia mulai sadar bahwa malam ini bisa jadi akhir dari segalanya, tidak hanya bagi dirinya, tapi juga bagi orang-orang di sekitarnya.

Mereka tak sedang berhadapan dengan perampok biasa, tapi dengan sekelompok teroris keji—makhluk haus darah tanpa nurani.

Yang paling menakutkan bukanlah kematian, tapi bayangan dirinya dinajiskan secara brutal di hadapan publik dunia.

Ia tak sanggup membayangkan jika Charlie melihat dirinya seperti itu. Bahkan dalam kematian pun ia takkan tenang!

Pemimpin pasukan berbaju hitam itu menyipitkan mata saat mendengar nama ‘orang tercinta’.

Dengan suara serak penuh ejekan, ia berkata, “Kamu tidak ingin siapa pun melihatnya, tapi aku ingin seluruh dunia menyaksikannya. Aku ingin semua mata menyaksikan bagaimana aku merobohkanmu.”

Senyumnya berubah menjadi bengis, seperti iblis yang baru saja bangkit dari neraka.

“Dan bukan cuma itu, aku ingin mereka menyaksikan bagaimana aku membunuhmu. Melihat sosok dewi yang mereka puja dihancurkan perlahan oleh tanganku… sampai tak tersisa apa pun.”

Tawana menatap tajam dan berteriak penuh amarah, “Kamu iblis! Iblis terkutuk!”

Tertawa puas, pria itu berkata, “Kamu benar. Aku memang iblis. Dan jika kamu jatuh ke tanganku, kamu akan berharap lebih baik mati sejak awal!”

Tiba-tiba ia mengangkat alis dan tersenyum keji. “Nona Sweet, aku dikenal cukup tangguh dalam urusan seperti ini.”

“Tak perlu menunggu jaringan dipulihkan. Bagaimana kalau kita langsung melakukannya di sini, di depan semua orang?”

“Anggap saja pemanasan, sebelum siaran resmiku yang sempurna dimulai.”

Bab 7160

Tawana sudah berada di ujung batas keputusasaan. Dalam hatinya ia bahkan sempat berniat untuk mengakhiri hidupnya saat itu juga.

Orang tuanya yang menyaksikan kejadian itu nyaris pingsan, lalu melompat maju hendak melindungi sang putri—namun langkah mereka segera dihentikan oleh moncong senjata para pria berseragam hitam.

Dengan nada keras dan dingin, sang pemimpin mengancam, “Mulai saat ini, siapa pun yang bergerak melebihi batas akan kutembak kepalanya!”

Orang tua Tawana pun tak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya mampu berjongkok di lantai, saling berpelukan sambil menangis tersedu-sedu.

Tawana benar-benar kehilangan harapan. Ia merasa tak ada jalan keluar, bahwa ia dan kedua orang tuanya takkan bisa meninggalkan tempat ini dengan selamat.

Di Tokyo dulu, Charlie datang menyelamatkan. Tapi kali ini, di Maladewa yang terpencil ini… ia tahu keajaiban itu tidak akan datang dua kali.

Pada saat itulah, si pemimpin mulai kehilangan kesabaran. Ia mencengkeram kerah Tawana dan berkata tajam, “Ayo! Biar aku rasakan dulu seperti apa rasanya menjadi superstar internasional!”

Tangannya sudah terulur, hendak merobek kemeja Tawana.

Namun tiba-tiba, suara gemerisik listrik terdengar dari alat komunikasi di telinganya. Seolah ada seseorang yang menekan tombol panggil, tapi tak mengucapkan sepatah kata pun, lalu segera melepaskannya.

Dahinya berkerut. Ia sempat mengira salah satu anak buahnya menghubunginya, namun hanya sinyal terganggu.

Tim Satu, Dua, dan Tiga berjaga di luar. Hanya satu orang yang ia kirim untuk memperbaiki sinyal. Maka, ia segera mengeluarkan ponsel, memeriksa ikon sinyal di pojok kanan atas.

Tak ada tanda-tanda kekuatan sinyal muncul. Hening.

Dengan gusar, ia menekan tombol komunikasi dan menggeram, “Sonny! Kenapa sinyalnya belum juga pulih?! Aku harus siarkan pertunjukan bagus ini ke netizen dunia!”

Namun, dari komunikator hanya terdengar kesunyian.

Kerutan di wajahnya semakin dalam. Sebuah firasat buruk menyelinap ke dalam hatinya.

Sonny—kapten yang kini tubuhnya telah dingin dengan leher tergorok dan lengan terpotong oleh Charlie—adalah tangan kanannya selama bertahun-tahun.

Tenang, cermat, dan selalu responsif. Sonny tak pernah gagal menjawab panggilan, bahkan dalam situasi genting.

Tak mendapat balasan membuatnya langsung siaga. Ia bangkit dari tempat duduk dan mulai melangkah keluar sambil menekan tombol interkom, “Tim Satu, cari Sonny! Lihat apa yang terjadi!”

Ia menanti respons. Tapi yang menjawabnya lagi-lagi hanya keheningan.

Ketegangan menjalari dadanya. Ia pun menahan langkah, lalu kembali menekan tombol, kali ini memanggil, “Tim Dua! Tim Tiga! Jika kalian mendengar, segera balas!”

Ketiganya adalah unit yang ia tempatkan untuk berjaga di luar. Totalnya ada tiga puluh orang.

Namun, tak satu pun menjawab.

Kini, yang tersisa hanya enam orang anggota Tim Empat yang berjaga bersamanya di dalam bar.

Sonny dan tiga prajurit yang baru saja dikirim keluar… juga tak memberi kabar.

Ketakutan mulai merayapi benaknya. Ia berbisik kepada salah satu anak buah, “Keluar dan lihat apa yang terjadi di luar sana.”

Pria berpakaian hitam yang dipanggil tampak gelisah, namun tak berani membantah. Ia pun menarik napas dalam, lalu perlahan berjalan menuju pintu.

Namun begitu sampai di ambang pintu, langkahnya terhenti. Ia berdiri kaku, seperti membatu, tak bergeming.

Sang pemimpin, yang melihat keanehan itu, berteriak dari belakang, “Hei! Apa yang kamu lakukan?! Pergi dan periksa!”

Namun belum sempat kalimat itu selesai bergema, kepala pria tersebut tiba-tiba tergelincir jatuh dari pundaknya—menggelinding perlahan hingga berhenti tepat di kaki sang pemimpin.


Demikian kisah/cerita dari Novel Charlie Wade Bab 7159 – 7160 gratis online. Semoga terhibur.

The Charismatic Charlie Wade / The Amazing Son-in-Law Chapter bab Novel Charlie Wade Bab 7159 – 7160.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*